XtGem Forum catalog
Kecil
Google - Jun Kariya (Chao Longtao)
*Karakter anime "The File Of Young Kindaichi R", episode 26
*postingan tidak bermaksud menghina dan menyudutkan

"Hotel ini begitu megah, ya?" kata Nafis
"Iya, sepertinya bakalan betah disini" kata Takbir
Tiba-tiba, terdengar teriakan
"Hah, suara apa itu" tanya Takbir kepada Nafis dengan agak ketakutan
"Lebih baik, kita ke sumber suara itu" kata Nafis sambil memberanikan diri
Mereka sangat kaget saat tiba disana. Sudah ada mayat tergeletak bersimbah darah, disampingnya ada seorang Wanita menutup mulutnya tanda ketakutan (mungkin), dan ada seorang 'anak kecil'
*mereka menyimpulkan bahwa itu adalah seorang anak kecil karena tubuhnya rendah dan suaranya 'ringan'
"Gini aja, pelakunya hanya ada diantara mereka berdua, kamu nanya yang cewek, aku nanya dia" kata Nafis ke Takbir sambil menengok ke 'anak kecil' tadi
"Tapi aku udah punya pacar, Fis. Pengawasannya ketat lagi. Kayak security mall. Jadi kita bertukar aja" kata Takbir dengan cemasnya yang bertambah walau sedikit bercanda
"Baiklah" kata Nafis dengan agak kesal
Selesailah mereka menanya kedua orang tersebut. Ternyata wanita yang menutup mulutnya tadi Pacarnya Takbir, dan 'anak kecil' tadi bernama Imin
"Kau berbohong, Bir" kata Nafis ke Takbir
Ternyata Takbirnya malah hilang, bersama pacarnya pula hilangnya. Hanya tersisa Nafis, Imin, dan mayat tadi.
"Aku seperti mengenalnya" kata Nafis agak kaget
"Dia pegawai hotel ini, sama sepertiku" kata Imin memaparkan
"Wah, kecil-kecil pegawai hotel" kata Nafis takjub
Plak!
Imin menampar Nafis dengan keras.
"Kau tertipu dengan tubuh dan suaraku" kata Imin sambil tertawa pelan
Tiba-tiba, lampu koridor itu mati. Beberapa saat kemudian, lampunya menyala lagi
Imin hilang, dan Takbir dan pacarnya muncul, namun diikat dan dilakban mulutnya
"Imin!" teriak Nafis
"Apakah kalian tidak apa-apa?" kata Nafis kepada Takbir dan pacarnya
"Ya kami tidak apa-apa" kata Takbir
"Tapi tolong kejar dia" kata pacar Takbir dengan suara lemah
Nafis pun mengejar Imin yang entah kemana, sambil berteriak "Imin!"
Dia terhenti diujung koridor, di kamar bernomor 130 dengan ujung angka 1 agak terpotong.
Dia pun menengok ke kiri dan ada Imin disana.
"Itu ada hubungannya denganku, ada juga hubungannya dengan pelakunya, namun bukan berarti aku pelakunya" kata Imin
Nafis melihat tangan Imin.
"Maukah kau bekerja sama denganku?" kata Nafis
"Tentu!. Sejak dulu aku ingin bekerja sama dengan detektif, setidaknya calonnya aja" kata Imin bahagia menyambutnya sambil berkedip
"Tapi ada syaratnya, kamu ber-akting" kata Nafis memotong
"Maksudmu?" tanya Imin
"Yap, aku tau siapa pelakunya!" kata Nafis
"Oh ya, ini" lanjut Nafis sambil memberikan sesuatu
"Gunakanlah ini nanti" lanjut Nafis
Beberapa menit kemudian
"Terimakasih telah berkumpul di ruangan ini, telah terjadi pembunuhan di koridor sebelah kanan" kata Nafis
"Hah?" kata semua orang
"Korban adalah pegawai hotel senior disini, dan pelakunya ada diantara kita" kata Nafis
"Apa?" teriak semua pengunjung hotel
"Tersangkanya sendiri yang memberiku petunjuk" kata Nafis
"Aku berjalan-jalan di koridor tkp, dan aku menemukan kamar bernomor 130 dengan angka 1 yang agak terpotong"
"Setelah itu, aku menengok ke kiri, ternyata ada tersangka, dialah yang memberi petunjuk"
"Dan tersangkanya adalah Imin!"
"Kok Imin?. Bagaimana orang sekecil itu bisa membunuh orang?" kata pelayan hotel
Tiba-tiba, terlihat Imin sedang berlari, dia meloncat dan....
Plakk!
Tamparan keras dari Imin hingga "tangannya" terlepas. "Darah" pun berceceran
"Aaa" teriak seisi hotel
"Tenang semuanya, aku Detektif" kata Nafis
"Imin, kau sungguh mengecewakan!" lanjut Nafis sambil berkedip sedikit
Nafis mengeluarkan pistolnya, dan ....
Dorr!
Imin "tertembak". Darah bercucuran dari dadanya.
"Horee!" teriak pacar Takbir
"Imin hanyalah tersangka, namun pelakunya adalah kau, pacar Takbir"
"Apa?. Bagaimana mungkin pacarku membunuh pegawai hotel disini"
"Angka 1 yang dicoret, menunjukkan 'terpenggal', Imin bilang itu ada hubungannya dengan dirinya, itu buktinya (tangan yang terlepas), dan juga pelakunya. Aku sebelumnya kebingungan, apanya yang terpenggal, ternyata 'kewarasannya'. Ya, dia psyco"
"Saat aku melihat korban, disampingnya ada istri kang Atep sedang menutup mulut. Itu agar aku berpikiran bahwa dia takut, sebenarnya tidak. Dia terlalu bahagia, namun dia menutup mulutnya. Dan barusan aku 'menembak' Imin, betapa bahagianya dia"
Nafis mendekati Imin, dan berkata "Aktingmu hebat bro" sambil mengambil tangannya yang terlepas tadi
"Maaf aku berbohong, Detektif. Korban bukan hanya pegawai hotel, tapi istriku"
"Sebenarnya umurku 20-an, tubuh dan suaraku inilah yang menipu kalian" kata Imin
"Satu hari sebelum kejadian, istriku curhat kepadaku, ada yang mengganggunya, dan mengancamnya. Ternyata itu pacar Takbir" lanjut Imin
"Tak pernah kau sangka, Bir?" kata Nafis
"Aku berbohong. Sebenarnya aku tau semuanya, Fis. Namun kau menggagalkan semuanya!" kata Takbir
Takbir mengeluarkan pistol dari sakunya. Imin mendekati Takbir, dan menampar tangan yang memegang pistol itu.
"Kau tidak akan bisa, bung" kata Imin sambil meninju perut Takbir
"Terimakasih, Min" kata Nafis
"Panggilah aku 'Kang', kau lebih muda dariku" kata Imin
"Baik kang, sampai berjumpa lain waktu" kata Nafis
Tangan Takbir dan pacarnya diborgol. Mereka dibawa ke kepolisian oleh Nafis. Mereka akan dihukum karena pembunuhan yang sudah direncanakan, entah apa hukumannya.
- 3 bulan setelah kejadian itu
"Huft. Ya, saatnya merasakan kembali hotel ini" kata Nafis
"Halo Nafis" kata Imin menyapa
"Halo kang, sudah lama gak bertemu ya, setelah kejadian itu" kata Nafis
"Ya, sepertinya masih terasa kejadian itu" kata Imin
"Kang"
"Ya?"
"Menurutmu, kenapa mereka membunuh istrimu?"
Suasana menjadi hening sebentar. Suara angin pun terdengar.
"Sepertinya mereka memiliki dendam"
"Dendam seperti apa?"
Imin pun menceritakan pengalamannya
- 2 Tahun yang lalu
Imin selesai mengepel lantai. Dia pun mengangkat ember dengan kedua tangannya. Tiba-tiba, ada yang menyapa. Imin pun kaget sehingga dia tidak sengaja menyemburkan air di ember tersebut kepada orang yang menyapanya itu.
"Maaf pak, saya tidak sengaja" kata Imin
Imin melihat sekilas, kartu nama yang tertera diatas saku orang tersebut. Disana tertulis "Takbir".
Tiba-tiba, orang itu mengeluarkan pisau, dan menusukkannya ke perut Imin. Beberapa jam kemudian (mungkin), Imin ada dirumah sakit (dia sadarkan diri), dan sadar tangan dan kakinya hilang. Sepertinya orang itu mau membunuh Imin sekaligus memutilasinya, namun gagal.
- Sekarang
"Eh......" kata Nafis kaget
"Ya, gak nyangka kan?" kata Imin
Nafis pun mengangguk
"Aku juga gak nyangka kau seorang detektif" kata Imin lagi
"Ya, begitulah. Terkadang, ada yang tidak pernah kita sangka, ternyata terjadi. Oleh karena itu, senang berkenalan denganmu, kang" kata Nafis sambil berkedip
"Senang berkenalan denganmu juga, detektif" balas Imin sambil berkedip juga
Mereka pun melambai satu sama lain
TAMAT