Snack's 1967
Gambar
Google - Tsuyoshi Kusanagi (Yoshito Takuma)
*tokoh Drama Jepang "Specialist" (2016)
Pagi itu, aku pergi ke sekolah seperti biasanya. Namun tidak kali ini, kemungkinan kali ini adalah hal yang merubahku
Ada orang yang tiba-tiba mendekapku dari belakang. Aku berhasil melihat wajahnya, dia bukan orang yang kukenal. Aku pun melawan, namun sepertinya aku terlalu keras memukul kepalanya sehingga dia tidak sadarkan diri.
Aku menghiraukannya dengan berpikiran dia hanya mengalami gegar otak. Aku hanya melanjutkan perjalananku ke sekolah
- Beberapa jam kemudian
Ditengah-tengah pelajaran pertama, ada beberapa polisi yang berjalan di koridor. Salah satu dari mereka memasuki kelas, dan bertanya, "Apakah disini ada yang namanya Nafis?".
Aku pun berdiri dari kursiku.
Teman didepanku bertanya "Ada apa?".
Aku hanya menjawab "Entahlah"
Ternyata guru berbicara terlebih dahulu daripadaku kepada polisi.
"Ada apa ya pak?" tanya beliau
"Anak ini telah membunuh seseorang yang kami belum tahu identitasnya" kata polisi dengan suara agak keras
"Hah?" teriak semuanya
Terdengar ada yang berbisik "Aku tidak menyangkanya".
Aku hanya tertunduk, dengan tanganku yang kukepal diletakkan di samping tubuhku, sambil berkata dihatiku, "Mengapa ini terjadi?"
"Ayo, ikutlah" kata polisi
Aku hanya pasrah dan ikut mereka
- 45 Menit Kemudian
Saat itu, aku berada di ruangan interogasi.
Brakk!
Itu seorang polisi yang tiba-tiba masuk dan langsung memukul meja.
"Santai pak" kataku
"Bagaimana bisa santai?"
"Kamu sudah membunuh orang yang bahkan tidak kau kenal!"
"Apakah kau gila?"
"Kurasa tidak" kataku
"Lantas, mengapa kau membunuh orang itu?!"
Aku hanya mengatakan yang sebenarnya (menurutku).
"Dia mendekapku. Aku hanya membela diriku"
"Bohong!. Tidak mungkin membela diri sampai orang mati"
"Sepertinya dia pernah mengalami gegar otak" kataku dengan pelan
Kemudian, ada seorang polisi lagi masuk.
"Apakah anda masih sibuk" kata beliau
"Tidak"
"Ini ada kasus yang sangat darurat. Ada penyanderaan siswa di ***"
"Bolehkah aku ikut, mungkin aku bisa membantu" kataku
"Hah?" kata mereka
"Ini kasus berbahaya"
"Tidak apa-apa, mungkin aku sudah membunuh seseorang, tetapi aku tidak mau orang yang telah baik kepadaku terbunuh" kataku
"Maksudmu?"
"Tempat yang kalian sebutkan tadi sangat dekat dengan sekolahku. Aku takut temanku yang disandera" kataku
Mereka pun menatap satu sama lain.
"Baiklah" kata salah satu dari mereka
- Di perjalanan
Mobilnya luar biasa mengebut. Kurasa karena jalanannya sepi.
"Pak, anda bukan mantan anggota BPK kan?" kataku berbicara kepada supir
"Apa maksudmu?" jawab supir
"Anda terlalu ngebut pak" kataku
Ciiit (*bunyi mengerem)
Aku pun terdorong maju sampai terbentur kursi depan
"Aduh" kataku
"Kalau mau pelan, jalan sendiri" kata supir
"Apakah kau bodoh, dia bisa melarikan diri kalau begitu" kata polisi
"Baiklah, aku mengalah" kata supir
Akhirnya mobil bergerak dengan cepat, tapi tidak mengebut. Aku hanya mengelus-elus kepalaku yang barusan terbentur.
"Aku belum selesai berbicara tadi. Bagaimana kau tau bahwa korban pernah mengalami gegar otak. Apakah kau mengenalnya" kata polisi
"Lah, kan anda tau sendiri. Saya tidak mengenalnya sama sekali. Itulah alasan saya membela diri walau hanya mendekapku" kataku
"Kita sudah tiba" kata polisi
Mereka keluar lebih awal, kemudian aku dikeluarkan. Jadi, satu yang menyuruh minggir, dan satu yang menjaga diriku.
Dugaanku benar. Salah satu temanku disandera di pinggir jalan. Dia melihatku dan aku hanya tersenyum
"Apa yang kau lakukan pak?" tanyaku
"Apakah kau tidak melihatnya?. Kau bahkan tidak peduli atas temanmu sendiri" kata orang itu
"Pak, tangkap dia" kataku pada polisi
Ternyata polisi dengan mudahnya menangkap orang itu
"Mengapa kau menyuruh menangkapnya" kata polisi
"Darimana dia tau bahwa yang disanderanya temanku. Misalkan dia melihat dari seragamku, lihatlah, aku memakai jaket" kataku
*Maaf, aku lupa bilang bahwa hari itu dingin, sepertinya habis hujan
"Eh, iya juga ya" kata polisi
Diapun dibawa ke mobil polisi, sementara temanku bisa pulang dengan tenang.
Kami pun kembali ke kantor polisi.
"Wah, penalaranmu hebat" kata supir
"Terimakasih" kataku sambil tersenyum
Aku pun menatap pelaku penyanderaan tadi.
"Tumben diam, kukira kau akan mengamuk disini" kataku
Wajahnya pun tiba-tiba berubah.
"Apakah kau tidak tahu?. Aku gagal!. Aku tidak bisa melakukan apa yang dia suruh" katanya
"Ups!" lanjutnya sambil menutup mulut
"Nah lo, disuruh rupanya. Aku yakin orang yang menyuruhmu adalah orang yang sama dengan orang yang menyuruh si 'korban' yang 'kubunuh' itu" kataku sambil menengok ke polisi
- Kemarin di Pelabuhan
Saat itu, angin sepoi-sepoi. Aku berbicara dengan kawan lamaku. Namanya Taufiq.
"Bagaimana kabarmu disana" tanyaku
"Alhamdulillah, baik" katanya
"Lantas, bagaimana kabarmu?" gilirannya bertanya
"Sepertinya akan buruk" kataku
"Apakah kau bercanda?" katanya sedikit tertawa
"Sayang sekali, tidak" kataku murung
"Apa maksudmu?" katanya dengan nada tinggi
Aku pun mulai bercerita tentang pengalamanku
"Kurasa semua dimulai 6 bulan yang lalu"
"Saat itu aku di taman menikmati hari liburku. Tiba-tiba, aku mendengar suara tembakan. Semua orang menjadi panik. Aku pun melihat ada pria tewas didepanku"
"Karena aku sering menonton acara yang bergenre misteri, akupun berniat mengecek apakah dia masih hidup"
"Tiba-tiba, polisi datang dan berteriak 'angkat tangan!' tanpa sempat aku mengecek padahal aku sudah mendekatinya. Tapi aku melihat bibirnya masih bergerak menandakan dia masih hidup. Aku pun merasa ada yang salah. Seperti ada yang merancang itu"
"Salah satu dari mereka berkata 'Apakah kau pelakunya?'. Aku hanya menjawab 'Bukan saya, pak'. Aku melihat di bajunya tertera nama Kurniawan. 'Ngaku aja!" teriak beliau. 'Beneran pak, bukan saya' kataku. 'Ah sudahlah, kau bisa menjelaskannya di kantor polisi' kata beliau sambil memborgolku"
"Malang sekali nasibmu, Fis" kata Taufiq
"Ya begitulah" kataku
"Angkat tangan!" teriak seseorang
"Dia lagi" kataku
"Maksudmu?" kata Taufiq kebingungan
"Tanpa perlu melihat beliau sekalipun, aku tahu itu pak Kurniawan. Aku masih ingat teriakan itu" kataku
"Pergilah Fiq. Aku tahu tujuan mereka sebenarnya adalah menangkapmu" lanjutku
"Tapi..." kata Taufiq
"Pergi saja" kataku
"Kau lagi!" kata pak Kurniawan
"Mengapa kau membiarkan dia kabur. Dia buronan" lanjut pak Kurniawan
"Oh... Jangan-jangan kamu bekerja sama dengannya" lanjut pak Kurniawan lagi
Aku hanya diam
"Denger gak?!" teriak pak Kurniawan
Aku hanya menarik napas dan berharap seseorang menolongku
"Dorr!"
Tembakan ke lengan kiri pak Kurniawan
Akupun langsung menengok ke belakang dan benar saja. Taufiq masih berada disana dan menyelamatkanku. Diapun kembali bersembunyi tepat sebelum pak Kurniawan melihatnya.
"Siapa disana?" kata pak Kurniawan
Yap. Beliau pun melihat ke sekitar, mencari siapa yang menembaknya barusan, tapi hasilnya nihil
"Baiklah, kali ini, kau kubebaskan, tapi lain kali. Awas!" kata pak Kurniawan
- Sekarang
"Siapakah yang menyuruhmu, dan lagipula, siapa namamu?" kataku
"Pertama-tama, namaku Andre. Asalku bukan dari sini, aku dari Jakarta. Aku tidak tahu siapa orang yang menyuruhku. Dia menyuruhku dari Internet (tepatnya surel). Dia memerintahku untuk membunuh seseorang, dan dia mengirimkan lampiran foto, dan itu adalah fotomu" kata Andre
"Hmm... Aku nanti ingin melihat surel itu" kataku
"Silahkan, nanti saat tiba" kata Andre lagi sambil berkedip
- Beberapa Menit Kemudian
"Oke, kita sudah tiba" kata pak Agus
.
"Ruangan ini lagi" kataku
Andre memiringkan kepalanya tanda bingung
Aku melihatnya. Jadi aku pun memberitahu kepadanya.
"1 jam yang lalu. Aku di interogasi diruangan ini. Sekarang, ruangan ini lagi. Apa gak ada ruangan lain?" kataku
"Jangan-jangan ini hanya rancangan" kataku pada diriku sendiri
"Masuklah kalian" kata pak Agus
Kami pun masuk ke ruangan interogasi
"Kau nanti dulu. Pelaku baru ini pantas diinterogasi terlebih dahulu" kata pak Agus
"Baiklah" kataku
Aku pun hanya pergi ke sudut ruang interogasi dibelakang Andre
"Brakk!" bunyi meja dipukul
"Lagi-lagi" kataku (dalam hati)
"Bisa lebih santai gak pak?" kataku
"Gak!. Kalau gak gitu, kagak bakalan dia jujur" kata pak Kurniawan
"Anak itu ada benarnya. Lebih baik kau mengambil napas sejenak. Aku aja yang bicara dengannya"
"Baiklah" kata pak Kurniawan sambil duduk
"Siapa namamu?" kata pak Agus
"Namaku Andre. Aku sebenarnya hanya suruhan entah oleh siapa dari internet. Kemudian aku ingin mencari orang yang ingin dibunuh. Aku pun diberitahu sekolahnya dimana. Kebetulan sekali ada salah satu siswa yang kebetulan sedang pulang. Aku pun menyanderanya dengan rencana dia langsung memberitahuku. Dia hanya memberitahu bahwa dia temannya tanpa memberitahukan namanya" kata Andre
"Lengkap ternyata" kataku
Pak Kurniawan hanya terdiam
"Oh iya, siapa namamu nak?" tanya pak Agus kepadaku
"Nafis" kataku
"Astaga" kata Andre
"Ada apa?" kata pak Agus
"Kau kah itu, yang mendekatiku di taman 6 bulan yang lalu?" kata Andre
"Sepertinya iya, aku bahkan tidak melihat persis wajahmu, karena kamu memakai kacamata hitam" kataku
"Ya itu memang dirimu, kamu saat itu namamu tertera di bajumu" kata Andre
"Ah, kebetulan sekali hari ini seragam itu" kataku sambil membuka jaketku
"Ngomong-ngomong, saat itu kau masih hidup kan?" lanjutku
"Ya iyalah, orang cuman ketiduran" kata Andre
"Saat itu aku benar-benar mengantuk, aku pun memakai kacamataku agar tidak kesilauan, kemudian aku tidur di bangku, tapi ada orang yang iseng (sepertinya) yang memindahkanku dari bangku ke tengah taman" lanjut Andre
"Kapan kau melihatku?" kataku
"Saat kau ingin berdiri, aku ingat kau melihat ke kanan" kata Andre
"Oh, gitu" kataku
"Tunggu dulu, bukankah kau menjanjikan sesuatu saat kau di mobil tadi?" lanjutku
"Oh iya juga" kata Andre
Tiba-tiba, masuklah seorang opsir ke ruangan ini sambil membawa Taufiq.
"Sepertinya ruangan ini hanya satu-satunya ruangan interogasi" kataku
Taufiq pun mendekatiku sambil membisiki, "Bukan aku yang menembak lengan Kurniawan kemarin"
"Lantas siapa?" balas bisikku
Dia pun membisiki sebuah nama. Aku sangat kaget karena mendengar nama itu sebagai pelaku.
"Sudah kuduga" kataku
"Sekarang tinggal satu hal tersisa" lanjutku
Andre pun berdiri dari kursinya, mengambil hp dari saku celananya. Dia sepertinya membuka sesuatu. Kemudian dia memperlihatkannya kepadaku.
"Alamat surel pengirimnya..." kataku
"Aku kurang paham bahasa alay, aku tahu alamat surelnya mengarah ke sebuah kata" kata Andre
Aku pun mengangguk, kemudian berkata "Sekarang semuanya terhubung"
"Pak Kurniawan" kataku dengan agak nyaring
"Ya, ada apa Fis?" kata pak Kurniawan
"Maukah kuberitahu suatu hal kepadamu?" kataku
"Apa itu?" kata pak Kurniawan?
"Bahwa yang menembak lengan kananmu itu bukan Taufiq dan bukan aku" kataku lagi
"Lantas, siapa?" kata pak Kurniawan
"Orang itu, adalah orang yang merancang semuanya untuk menjebakku agar aku jadi terpidana. Dia adalah yang menciptakan sifat teroris untuk Taufiq padahal aku tahu dia ini tidak mungkin menjadi teroris. Dia juga yang menyuruh Andre untuk membunuhku dengan menyandera temanku. Temanku itu adalah orang yang menanyakanku kenapa aku dipanggil polisi, sepertinya dia juga ada kaitannya dengan kasus ini" kataku
"Dan orang itu adalah anda, pak Agus!" kataku lagi dengan nyaring
"Yang benar saja?" kata pak Kurniawan
"Aku bingung dengan para siswa, kenapa masih memanggil nama orang dengan nama ayahnya..." kataku dengan santai
"Jadi, pertama dia menjebak Andre. Andre adalah kakak tiri dari temanku itu (aku menanyakannya saat di mobil), makanya dia memilih untuk menyanderanya agar dia bisa bicara. Kemudian selanjutnya Taufiq. Andre pernah bekerja sama akan sebuah kriminal buatan, tapi Taufiq menolak. Andre pun pasrah, dia pulang. Tapi mereka sama-sama taubat. Akan tetapi, pak Agus masih bersikeras akan menjebak mereka, dan entah kenapa jebakan itu membawa-bawa diriku" kataku
"Bagaimana kau tahu sebanyak itu?" kata pak Agus
"Kami yang memberitahunya!" kata Taufiq dan Andre
"Tunggu dulu, berarti kau yang menembak lenganku?" kata pak Kurniawan
Pak Agus terdiam sebentar kemudian kemarahan mengambil alih. Pak Agus pun membanting Pak Kurniawan ke meja interogasi itu sehingga meja itu patah seketika.
"Seandainya kau tidak ada disini, Fis!" kata pak Agus
"Lah, kan anda sendiri yang membawa-bawa saya" kataku
Kepala Polisi pun masuk ke ruangan interogasi itu karena mendengar suara meja patah tadi.
"Agus!. Ada apa dengan dirimu?. Karena hal ini, kamu saya pecat!" kata Kepala Polisi
"Oh ya, kalian saya bebaskan karena kalian tidak bersalah" kata Kepala Polisi lagi
Aku pun tersenyum, kemudian menyalami Taufiq dan Andre sambil berkata, "Senang bertemu dengan kalian"
"Kami juga senang bertemu denganmu" kata mereka
"Aku pulang dulu ya..." kataku
"Tunggu dulu, bagaimana caramu pulang" kata Taufiq
"Apa sih susahnya jalan kaki?" kataku
"Sejauh itu?" kata Andre
"Aku ke taman dan ke pelabuhan yang jauhnya beberapa kilometer hanya jalan kaki" kataku sambil tersenyum
Andre dan Taufiq pun memandang satu sama lain sambil berkata "Hah?"
Aku pun tiba di sekolah dalam waktu 30 menit (dibantu dengan ojek). Aku kembali ke sekolah karena aku mau mengambil tasku.
Setibanya dikelas, ternyata masih belajar.
"Berarti penyanderaan tadi waktu istirahat pertama" kataku dalam hati
"Assalamu `alaykum" kataku sambil memasuki kelas
"Wa `alaykum salam" kata teman-temanku
Aku pun duduk di kursiku.
"Bagaimana rasanya?" kata teman sebangkuku
"Biasa saja" kataku sambil tersenyum
Kemudian aku menanyakan teman didepanku, "Ayahmu namanya Agus dan beliau polisi kan?"
"Ya, darimana kau tahu?" katanya
"Ada deh" kataku sambil tersenyum
"Pengumuman, kepada seluruh siswa dipersilahkan pulang karena para guru ada urusan hari ini" "Hore!" teriak semuanya
Kami pun pulang. Ditengah lapangan, guru yang mengajar saat aku dipanggil polisi tadi menyuruhku untuk mendatangi beliau. Daripada berlama-lama, aku segera kesana.
"Ya, ada apa bu guru?" kataku
"Seharusnya ibu yang bertanya ada apa" kata beliau
"Terkadang membela diri saja ada yang salah paham" kataku sambil berjalan menjauh
Setibanya di rumah, aku letakkan tasku, kemudian pergi ke kamar.
Ibuku membuka televisi tepatnya di saluran berita.
"Seorang polisi dipenjarakan karena mencoba menjebak seorang remaja" bunyinya sambil menampilkan cctv aku membela diri itu
"Motifnya adalah membalaskan keirian korban penyanderaan palsu yang ternyata anaknya" bunyinya lagi sambil menampilkan cctv Andre menyandera temanku
"Kenapa baru bilang ada cctv disana" kataku dalam hati
"Lagipula seharusnya kalau iri ya, bilang langsung, ini pakai cara lain" kataku lagi dalam hati
"Ah sudahlah, gak ada gunanya memikirkan hal itu" lanjutku lagi dalam hati
"Berita apa itu?" kata ibuku
"Entahlah" kataku sambil tersenyum
.
Aku pun datang ke rumah teman yang duduk di depanku itu.
"Apakah kau benar-benar iri padaku. Jika iya, bilang saja. Aku akan mencoba agar tidak membuatmu iri" kataku
"Tidak, sebenarnya aku tidak benar-benar iri. Mungkin ayahku salah paham dan akhirnya mencoba menjebakmu. Aku mewakili ayahku, aku minta maaf" kata temanku itu
"Oke" kataku sambil tersenyum
"Mungkin hal yang kuirikan adalah kebaikanmu" kata temanku itu sambil tersenyum
Aku hanya tertawa, sambil berkata "Ya, semuanya hanya diawali oleh kesalahpahaman"
Akhirnya aku bisa pulang dengan tenang, hehe.
.
Penjelasan alur cerita:
Sebelumnya, pak Agus ini menjebak Andre. Andre diceritakan orang yang cocok sebagai kriminal, padahal dia hanyalah orang biasa, lucunya Andre mau. Kemudian, pak Agus menyuruh Ferdi (anggap nama teman yang duduk di depanku) untuk ke jalan raya (karena pak Agus sudah tahu waktu istirahat pertama), ternyata Andre emang disuruh untuk menyandera Ferdi, hal ini diketahui dari email yang dikirim ke Andre. Aku hanya pura-pura melihat alamat emailnya. Makanya dia kaget. Saat itu, Ferdi memakai jaket yang warnanya sama dengan jaketku. Mungkin mukanya ketutupan. Andre mengira Ferdi itu aku.
Taufiq ini teman lamaku, dia tinggal di Jakarta juga (itulah mengapa aku menemuinya di pelabuhan), aku tahu bahwa dia pernah mencoba bunuh diri di tengah umum, tapi digagalkan. Tapi sejak itu dia baik kepada semua orang, entah kenapa.
TAMAT