Disneyland 1972 Love the old s
Ilustrasi
(gambar ini hanya ilustrasi akan saking panasnya TKP)
"Aaaa"
"Teriakan apa itu" kataku
"Sepertinya dari rumah disebelah" lanjutku
Akupun ke rumah tersebut, dan ketika aku masuk ke rumah tersebut
"Astaga, rumah ini panas sekali" kataku
Kemudian, aku melihat seorang wanita. Aku kenal beliau. Dia adalah ibunya Aris, temanku yang tinggal di sebelah rumahku.
"Ada apa tante?" tanyaku
"Tidak kah kau melihat itu?" kata ibu Aris
Jasad
(anggap ada darah yang berhamburan di sekitar jasad)
"Aris?" tanyaku
Aku pun mengecek keadaan jasad
"Tunggu, bajunya basah. Dan jantungnya masih berdetak" kataku dalam hati
Dan terlihat satu bekas tusukan pisau di perut korban
Aku pun membangunkan kipas angin yang menimpa Aris, namun seperti tersangkut
Kotak dekat kaki Kipas Angin
(yang tertutup sajadah terbalik itu adalah kotak)
Kemudian aku melihat tante tadi membuka kerudungnya, kemudian mengelap wajahnya.
"Tante, anda tadi kemana?" tanyaku
"Saya tadi pergi bersama suami saya untuk membeli AC. Tetapi, tadi toko langganan saya itu tutup. Toko langganan saya itu jauhnya kurang lebih 5km dari sini. Jadi, daripada berlama-lama. Cuacanya juga panas. Kami pun pulang" kata tante itu
"Iya kan mas?" lanjut beliau
"Iya" kata om (suami beliau) sambil melepas topi
"Oh ya, bisakah jasad anak anda ini dipindah sebentar?" kataku
"Untuk apa?. Seharusnya pekerjaan ini kita serahkan pada polisi. Jadi, aku akan menelpon polisi dulu" kata om tersebut
Om tersebut pun mengeluarkan ponsel dari sakunya
"Ada apa ini teriak-teriak" kata Mbak Yuli sambil membuka pintu depan
"Astaga, rumah ini panas sekali. Aku tidak mau mengotori diriku lagi setelah mandi" lanjut Mbak Yuli
"Rambut kering, kok tangan masih basah" kataku dalam hati
Aku pun mendekati Mbak Yuli dan berkata, "Aris dibunuh"
"Apa?" kata Mbak Yuli dengan suara keras
"Nah, teriak juga kan?" kataku
Mbak Yuli pun malu kemudian keluar rumah (melalui pintu depan)
Saat itu, keringat mulai mengucur dari tubuhku, dan orang tua Aris
"Ya pak, ada apa?" (suara yang terdengar dari ponsel ayah Aris)
"Anak saya terbunuh pak, tapi sepertinya nyawanya masih dapat diselamatkan" kata ayah Aris
"Dimana tempat anda?" tanya polisi itu
"Desa Sukaramah di Jl. Raya Indah Rt. 6 No. 119" kata Ayah Aris
"Baiklah. Kebetulan ada unit kami yang patroli di dekat sana. Sekitar 5 menit mereka akan tiba" kata polisi
"Terimakasih" kata Ayah Aris
"Aku keluar dulu, disini panas sekali" lanjut Ayah Aris
Ayah Aris pun keluar melalui pintu belakang
Beberapa saat kemudian, tibalah polisi
Aku yang tadi duduk, kemudian aku berdiri
"Awas kepalamu" kata Ibu Aris
Aku berhenti seketika, kemudian mundur dan melihat ada lampu di atas
Lampu
"Tunggu dulu" kataku
"Ini kan siang tante, kenapa lampunya menyala?" lanjutku
"Tadi listrik padam, jadi aku menyalakan lampu. Namun, Aris menyalakan kipas angin agar tahu kalau lampu menyala. Setelah itu dia berbaring dan tidur." kata Ibu Aris
"Hah?" kataku
Aku pun mengecek sesuatu

"Sudah kuduga" kataku
"Sekarang, aku mendapatkan bukti. Tinggal cari pelakunya" kataku
Tidak berapa lama kemudian, aku melihat dari jendela, ayah Aris yang berlari menuju hilir.

(Ilustrasi Jendela © Google Images)
Polisi pun datang. Mereka juga cukup dikagetkan oleh keadaan jasad yang cukup mengerikan itu.
Aku kemudian berkata kepada polisi, "Tadinya kipas angin itu jatuh ke badannya, setelah itu kipas anginnya kubangunkan".
"Bodoh!. Orang biasa tidak boleh mengubah keadaan TKP!" kata polisi.
"Lah, apakah anda lupa, pak Kurniawan?. Sudah 6 bulan sejak bantingan itu" kataku.
"Ah, aku ingat" kata pak Kurniawan
"Tapi tetap saja, hanya polisi yang boleh menyentuh TKP, takutnya ada sidik jari yang tertumpang atau terhapus" lanjut pak Kurniawan.
"Beruntung sekali, aku berhati-hati" kataku.
Kemudian, datanglah dokter setempat.
"Anda bisa menghentikan pendarahannya?" kataku.
"Tentu" kata dokter itu.
"Apakah dia sudah mati?" tanya pak Kurniawan
"Tidak, jantungnya masih berdetak. Dia hanya tidak sadarkan diri" kataku

Ayah Aris kembali duduk di dekat pintu belakang. Sementara Ibu Aris masih bersedih dan aku sambil menghibur beliau.
"Rumah ini panas ya" kata polisi dan dokter.
"Seandainya aku tidak pergi membeli AC, ini tidak mungkin terjadi" kata Ibu Aris.

Aku pun menyadari sesuatu, dan menanyakan (dengan berbisik) hal itu kepada polisi.
"Sudah kuduga, sekarang aku tahu pelakunya" kataku dalam hati.
Setelah itu, sekali lagi, aku berbisik kepada polisi untuk memanggilkan seseorang.
"Ada apa lagi..." kata Mbak Yuli yang datang dari pintu depan bersama polisi.
"Aku akan memberitahukan kebenarannya" kataku.
"Maksudmu?" kata Ibu Aris.
"Sudah jelas ini pembunuhan terencana, mbak" kataku lagi.
"Jangan lama-lama, bisa langsung saja tidak?" kata pak Kurniawan.
"Baiklah, kalau anda memaksa" kataku.
"Nyatanya, pelakunya adalah semua orang yang berada di rumah ini selain kita" lanjutku.
"Apa?" kata pak Kurniawan.
"Ya, pelakunya adalah Mbak Yuli beserta orang tua Aris" kataku.
"Yang benar saja, bukankah sudah kubilang kami pergi ke toko saat waktu pembunuhan?" kata ayah Aris yang masuk dari pintu belakang.
"Anda memang pergi kesana. Tetapi anda berbohong toko itu tutup. Toko itu buka 24 jam, iya kan, pak Kurniawan?" kataku (seharusnya saya memberi foto ilutrasi patroli)
"Ya, aku sudah sering patroli disekitar sini, dan toko itu selalu buka, walau lampu padam. Aku sering melihat pergantian penjaga" kata pak Kurniawan.
"Oke, baiklah. Kami mengaku kami berbohong. Tapi, jika kami masih disana, bagaimana kami membunuhnya?" kata ibu Aris.
"Pelakunya Mbak Yuli" kataku.
"Apa?" kata pak Kurniawan.
"Mereka telah bekerja sama untuk membunuh Aris. Dengan motif yang berbeda tentunya. Saya rasa motifnya Aris yang selalu bernyanyi keras-keras untuk salah satu pelakunya" kataku.
"Ya, kau benar. Pelakunya memang aku, dan itulah motifku" kata Mbak Yuli.
"Tapi, bagaimana kau mengetahui pelakunya adalah aku?" lanjut Mbak Yuli.
"Sederhana, anda tidak akan mandi kalau anda tidak berkeringat. Sebagai tetangga, saya tahu rumah anda menggunakan semen (*seharusnya saya pakai foto), jadi tidak terlalu panas jika anda hanya diam di rumah. Anda mandi untuk menghilangkan keringat anda, sekaligus bekas keringat Aris"
"Anda sebenarnya berencana membiarkan kipas angin menyala. Walau menghadap ke depan, kipas angin itu tetap mendinginkan. Kalau keringat Aris kering, bisa ketahuan ada yang masuk ke rumah ini."
"Sebenarnya, kipas angin itu belum menyala. Yang menyebabkan panas adalah lampu diatas kita ini. Ketika Mbak Yuli mematikan lampu ini, kipas angin menyala tiba-tiba, dan jatuh ke tubuh Aris. Itulah mengapa darahnya berhamburan. Hal ini disebabkan oleh pembagian listrik yang tidak merata, alias listrik paralel. Ketika anda menyalakannya lagi, kipas angin itu belum mati. Anda pun mematikannya dengan menekan tombol disana, dan mengembalikan kipas angin ke tubuh Aris. Namun anda tersentuh tubuh Aris, dan menyebabkan anda terkena keringatnya. Anda pun mandi. Setelah mandi, ternyata masih ada satu yang menempel ditangan anda"
"Apa itu?" kata pak Kurniawan
"Parfum" kataku
"Anda mungkin tidak menyadarinya karena bau keringat. Tapi sebelumnya, baju Aris ada bau parfum. Anda pun menyuci tangan, kemudian mendengar teriakan Ibu Aris" kataku.
"Heh. Kamu benar. Seandainya kamu tidak berteriak, aku tidak akan dicurigai" kata Mbak Yuli.
Tangan Mbak Yuli pun diborgol.
"Apa hubungannya dengan orang tua korban?" tanya pak Kurniawan.
"Bukankah mereka tidak terlalu merasa kepanasan" bisikku pada pak Kurniawan.
"Ada apa kau ini, berbisik mulu!" kata Ibu Aris.
"Lanjut!. Mengapa aku mencurigai mereka, karena ayah Aris. Mengapa ketika menuju jalan raya itu lebih mudah melalui pintu depan, beliau memilih pintu belakang?. Karena ingin berbicara kepada Mbak Yuli" kataku.
"Sepertinya suami anda selingkuh" lanjutku.
"Mbak Yuli mengemukakan kekesalannya dan ingin membunuh Aris. Saat itu, mungkin setan yang berbisik. Ayah Aris pun memperbolehkan. Itulah mengapa ayah Aris membawa istrinya ke toko itu. Tapi sesampainya disana, malah kembali" kataku.
"Ya, itulah kebenaran dari kasus ini" lanjutku.
"Suamiku, benarkah itu?" tanya Ibu Aris.
Sementara itu, polisi memborgol tangan ayah Aris.
"Iya, itu benar. Aku telah merencanakan ini" kata ayah Aris.
"Tapi, mengapa?" kata ibu Aris.
"Alasan yang sama. Aku membencinya" kata ayah Aris
"Berkali-kali aku menegur, tapi dia tidak menanggapi. Dia lebih patuh padamu, ma"
"Itukah alasanmu?" kata Ibu Aris.
Ibu Aris dengan sigap mengambil pisau dapur, kemudian bersiap untuk menusukkannya ke perut.
"Tunggu dulu" kata Aris.
Aku pun membuka pintu belakang dan pintu depan secara lebar-lebar.
"Inilah kunci dari semuanya" kataku.
"Apa maksudmu?" kata pak Kurniawan.
"Anda dapat merasakannya nanti" kataku.
"Jangan lakukan itu bu" kata Aris.
.
"Pisau dapur hanyalah untuk dapur bukan manusia" kataku.
"Apa maksudmu?" kata pak Kurniawan.
"Dari besar sayatan di perut, Mbak Yuli menggunakan pisau dapur. Makanya nyawa Aris masih bisa diselamatkan" kataku.
.
"Daripada aku selalu disalahkan dalam hidupku, lebih baik aku mati" kata Ibu Aris.
"Astaghfirullah" kataku.
Akupun mengeluarkan ponsel dari sakuku.
"Taufiq, kamu sibuk kah?"
"Tidak, memangnya kenapa"
"Apa hukuman orang yang bunuh diri?"
"Jaminan masuk neraka"
"Terimakasih"
"Sama-sama"
"Nah tuh mbak, dengar tidak?" kataku.
"Astaghfirullah" kata Ibu Aris.
Titiklah airmata Ibu Aris.
.
"Nah pak, lihat. Tadi bukannya rumah ini panas, kenapa air mata beliau tidak kering seketika?" kataku.
"Tunggu, darimana angin sejuk ini datang" kata pak Kurniawan.
"Sial, kenapa aku baru sadar. Pintu depan dan pintu belakang bertolak belakang. Ventilasi paling besar ya ini" lanjut pak Kurniawan.
"Mbak Yuli, maafkan aku ya. Bu, ayah, aku minta maaf juga" kata Aris.
"Baiklah kamu kami maafkan" kata ayah Aris.
Mbak Yuli pun pulang melalui pintu depan sambil meneteskan air mata.
"Kebetulan, kami membawa ambulan kesini" kata dokter setempat yang berhadir di rumah itu.
"Baiklah, bawalah ke rumah sakit segera" kataku.
Dokter itu pun berusaha mengangkat Aris.
Tiba-tiba, ayah Aris mencoba membantu.
Pak Kurniawan pun ikut membantu.
Dan merekapun memasukkan Aris ke dalam ambulan.
Beberapa saat kemudian, dokter itupun pergi dengan ambulan yang berisikan Aris itu.
.
"Tunggu dulu, bagaimana ibu Aris bisa dibohongi bahwa toko itu tutup" kata pak Kurniawan.
"Sebagai tetangga, aku sering mendengar nyanyian Aris yang dikeraskan melalui mikrofon itu. Tetapi aku tidak terganggu, malah aku senang. Karena suaranya cukup bagus. Sering kali terdengar pembicaraan, yang paling sering terdengar adalah kata 'dimana...' dari ibunya. Bisa disimpulkan, ibu Aris ini orangnya cukup pelupa." kataku.
"Jadi, rumahmu dekat sini?" kata pak Kurniawan.
"Kami pulang dulu ya!" kataku sambil keluar.
"Ya, memangnya kenapa?. Apakah anda mau macam-macam?" kataku.
"Tidak, agar aku bisa mengunjungimu, dan aku bisa meminta bantuanmu dalam memecahkan kasus" kata pak Kurniawan.
"Tidak akan!. Aku tidak akan membantu kalian!. Kalian sudah membuat citraku buruk!. Bahkan orang tuaku yang sudah tahu aku melakukan perlawanan itu tidak lagi memeliharaku!" kataku sambil meneteskan air mata.
"Kami minta maaf akan hal itu. Yang berlalu biarlah berlalu" kata pak Kurniawan.
"Bicara itu mudah!" kataku dengan marah sambil pergi ke rumahku.
"Nafis!" kata pak Kurniawan.
"Agus, Agus. Ada apa denganmu saat itu, Gus. Kau sudah membuat hidup orang menderita. Aku juga terbodohi saat itu" kata pak Kurniawan dalam hati.
"Apa lagi!" kataku yang masih marah.
"Aku juga minta maaf, karena sudah beberapa kali mencoba membunuhmu" kata pak Kurniawan.
Akupun membalikkan badanku, mencoba tersenyum dan berkata "Tentu!".
Akupun melanjutkan perjalanan pulangku.
"Assalamu `alaikum" kataku sambil memasuki rumahku.
Hanya kesunyian yang kudengar. Ya, aku tidak berbohong. Orang tuaku sudah mengetahui bahwa aku melakukan hal yang dianggap berlebihan itu, dan akhirnya aku ditinggalkan.
*Memulai kilas balik*
Saat itu aku baru bangun tidur, kemudian aku turun dari kasurku, dan menginjak sesuatu. Kuambil apa yang baru saja kuinjak. Ternyata itu amplop.
Kubuka lah amplop tersebut dan isinya surat yang bertuliskan sebagai berikut:
Nafis,
maafkan kami karena meninggalkanmu,
tapi ini adalah jalan yang terbaik,
karena engkau sudah mempermalukan kami,
meskipun demikian, kami masih menyayangimu.

Dengan kasih sayang,
Ibumu yang tercinta.

Setelah itu, kuperiksa kamar orang tuaku, dan ternyata sudah kosong. Hanya tersisa kasur dan lemari.
Kuperiksalah lemari itu, kalau-kalau ada yang ditinggal. Ternyata memang ada. Sebuah brankas mini dengan pengunci gembok yang harus mengetahui 6 digit baru terbuka. Di brankas itu, tertempel stiker kue mangkok kecil dengan lilin diatasnya.
"Apakah ini sebuah kode?" tanyaku pada diri sendir.i
Kumasukkan tanggal hari kelahiranku, dan brankas tersebut terbuka. Didalamnya ada uang senilai 1 juta dalam bentuk pecahan 2ribuan, beserta sebuah surat yang bertuliskan:
Ini adalah uang yang kami tinggalkan untukmu.
Kami sengaja memberi dalam bentuk pecahan 2ribuan agar mempermudah dirimu.
Dan kami telah menentukan tanggal penambahan uang sebanyak 500 ribu pada suatu hari nanti.
Harap dihemat ya, karena uangnya bisa datang terlambat.

Dengan kasih sayang,
Ayahmu yang tercinta.

"Penuh dengan persiapan ternyata" kataku.
"Kalau begitu, mungkin aku akan belajar menghemat. Alhamdulillah aku sudah bisa mandiri, terimakasih orang tuaku" lanjutku
*Menyudahi kilas balik*
"Hm... Sepertinya aku harus mandi dulu" kataku.
Setelah itu aku mandi. Setelah mandi dan memakai busana tentunya, aku pergi ke rumah Fadli.
Mungkin beberapa masih ingat, Fadli adalah temanku yang diduga iri denganku, dan menjadi korban penyekapan sementara saat itu, dan anak dari pak Agus.
Seperti biasa, dekat waktu Ashar, aku selalu memanggilnya untuk mengajaknya pergi bersama ke mesjid. Tapi kali ini berbeda, ternyata pak Agus mau ikut.
Dan sekali lagi, mungkin beberapa masih ingat. Pak Agus dipecat setelah membanting pak Kurniawan ke atas meja interogasi hingga mejanya patah.
Aku pun menyalami pak Agus.
"Tunggu bukankah kalian...." kata Fadli.
"Tidak lagi, Fadli" kata pak Agus.
"Lagipula, aku sudah dipecat" lanjut pak Agus.
"Baru kali ini ada orang yang menyombong pecatan" kataku.
Fadli hanya tertawa sederhana.
Setelah itu, kami pun melanjutkan perjalanan ke mesjid.
*Beberapa puluh menit kemudian*
Sudah menjadi kebiasaan kami, setelah shalat fardu, kami bershalawat sambil salam-salaman. Ternyata, aku bertemu lagi dengan pak Kurniawan. Aku tetap menyalami beliau.
Dan dibelakangku adalah pak Agus, ternyata mereka juga bersalaman, bahkan ditambah dengan pelukan.
"Mungkin temannya Taufiq datang pada mereka" kataku.
"Biar kutebak, pasti Hidayah" kata Fadli.
"Betul sekali!. Dua juta rupiah dipotong segitu juga" kataku.
Fadli pun tertawa, ternyata pak Agus dan pak Kurniawan juga ikut tertawa.
"Baiklah, aku pulang duluan" kataku.
"Tunggu dulu!" kata pak Kurniawan.
"Apa pak?" kataku.
"Kami minta maaf atas kesalahan kami" kata pak Agus.
"Ini bukan Idulfitri kan?" kataku.
"Tetap saja kami minta maaf" kata pak Kurniawan.
"Ya... Mungkin aku akan memikirkannya dulu" kataku.
"Kenapa?" tanya pak Agus.
"Alasannya kurahasiakan dulu" kataku sambil tersenyum dan pergi.
TAMAT