Senja Kuning

Apakah senja kuning akan berakhir? Setelah semua anak kembali ke rumahnya? Setelah hutan itu tidak ada lagi?
Tidak! Senja kuning akan tetap terjadi selama langit masih ada.
.
.
"Dimana aku?"
Itu suara ibu Ira. Dia membuka matanya. Orang-orang menganggapnya mati, ternyata tidak. Selama dia pingsan, dia berhasil diselamatkan dari rumahnya yang terbakar, oleh tetangganya yang baru sadar.
"Anda di rumah sakit bu," kata seorang perawat.
"Sejak kapan aku disini?"
"Beberapa hari yang lalu"
"Sebenarnya aku ingin pulang. Tapi rumahku sudah hangus. Oh ya, aku masih punya ibu, yang tinggal di dekat rumah sakit seingatku."
"Anda sudah dapat pulang walau anda baru sadar. Tunggu, ibu-ibu? Apakah nama ibu itu Ayu?"
"Ya, darimana anda tau?"
"Beliau tinggal di dekat rumah sakit ini. Beliau sangat ramah. Ketika aku diantarkan oleh suamiku kesini, beliau selalu menyapaku."
"Aku ingin kesana."
"Izinkan saya mengantarkan anda."
"Baiklah."
Merekapun pergi ke rumah yang dimaksud, atau kukatakan 'Rumah Nenek Ira'.
"Terimakasih"
"Sama-sama. Aku pergi dulu ya."
"Baiklah."
Rumah itu begitu reyot. Nampak seperti rumah angker. Rumah itu tampak berbeda dari yang lain. Gedung-gedung di sekitar rumah itu menutupi pencahayaan terhadap rumah itu.
"Kreeek"
Suara itu terdengar ketika ibu Ira.
"Tidak terkunci?" tanya ibu Ira pada dirinya sendiri.
Ibu Irapun menjelajah rumah itu. Dia membuka setiap ruangan. Hampir semua ruangan kosong.
Tetapi ketika Ibu Ira membuka pintu terakhir yang ia temui.
"Kreeek"
Bunyi itu lagi.
Dia menemukan seorang wanita tua.
"Ibu!"
Ibu Ira pun memeluk ibunya yang telah lama ia tak temui.
"Oh Sri. Betapa lama dirimu tidak kesini," kata wanita tua yang bernama Ayu itu.
"Maafkan aku ibu. Apakah ibu sendirian?" tanya ibu Ira.
"Ya, setelah ayahmu meninggal beberapa hari yang lalu. Aku terkadang dikunjungi seorang perawat, dialah yang sering membantuku. Bahkan dialah yang membayar perawatan ayahmu di rumah sakit sebelah ini," kata nenek Ira.
"Kurasa aku baru bertemu dengannya. Seharusnya aku banyak berterimakasih dengannya," kata ibu Ira dalam hati.
"Tidak biasanya kamu kesini," kata nenek Ira.
"Rumahku sudah tidak ada lagi bu. Aku tahu rumah itu pasti hangus. Dan aku tidak tahu keadaan suamiku," kata ibu Ira.
Ponsel ibu Ira langsung berdering.
"Ya, ada apa?"
"Apa benar ini Sri? Istri dari Indra?" tanya orang itu.
"Ya benar. Memangnya ada apa?"
"Saya polisi. Saya menemukan ponsel ini tergeletak di samping jasad suami anda di tanah lapang di utara kota ini."
"Berarti? Suami saya meninggal?"
"Ya, saya turut berduka cita. Saya masih heran mengapa motor, ponsel ini, serta sebuah buku kuno masih utuh dan tidak terbakar. Itu saja yang saya sampaikan. Saya diberitahu salah satu perawat di rumah sakit bahwa anda sudah sadar dan pulang."
Panggilan tersebut dihentikan.
"Apa katanya?" tanya nenek Ira.
"Suamiku meninggal, katanya disampingnya ada sebuah buku kuno," kata ibu Ira sambil meneteskan air mata.
"Bagaimana dengan anakmu?" tanya nenek Ira.
"Meninggal juga bu. Dia seperti dibunuh orang. Dia sempat menghilang saat kami makan. Tak lama kemudian, dia muncul di teras," kata ibu Ira.
"Itu terjadi lagi!" kata nenek Ira.
"Apa itu bu?" kata ibu Ira.
"Legenda Senja Kuning, ibu dulu pernah mengalaminya, namun ibu selamat. Tetapi saudari ibu tidak, dia meninggal persis seperti anakmu itu," kata nenek Ira.
"Semua itu dikarenakan kakakmu yang pergi ke hutan. Legenda di daerah kita berbeda. Dilegendakan ada sebuah buku, yang terletak di sebuah gubuk di tengah hutan."
"Tunggu buku? Kurasa tanah lapang yang dimaksud itu dulunya hutan. Karena aku pernah kesana. Sepertinya aku perlu menelpon polisi itu lagi," kata ibu Ira.
"Hutan jadi tanah lapang? Itu belum pernah terjadi sebelumnya. Tapi kalau kamu mau melakukan hal itu, berhati-hatilah," kata nenek Ira.
Ibu Ira mengangguk kemudian mengeluarkan ponsel dari sakunya lagi, dia selalu meletakkan ponsel di sakunya. Karena dia takut suaminya mengalami sesuatu hal, sehingga tidak jarang ia menelpon suaminya selama ia bekerja.
"Kepolisian Daerah Sukatani. Ada yang bisa kami bantu?"
"Dimana saya bisa menemukan buku kuno yang anda ambil di tanah lapang yang letaknya di utara kota ini?"
"Kami meletakkannya di museum."
"Terimakasih."
"Sama-sama, semoga hari anda menyenangkan."
Panggilan dihentikan.
"Mereka meletakkannya di museum, jadi aku mohon maaf bu. Aku akan pergi lagi. Dan aku janji, akan menyelesaikan semua ini. Agar senja kuning boleh terjadi, tetapi tidak memakan korban lagi," kata ibu Ira.
"Aku akan mengulangnya, berhati-hatilah," kata nenek Ira.
Ibu Ira kemudian mencium tangan ibunya, kemudian keluar dari rumahnya. Dia pun mulai berjalan menuju museum.
Di tengah perjalanan, ponsel ibu Ira berdering lagi. Ia pun mengangkatnya.
"Ya, apa?"
"Masih dari Kepolisian Daerah Sukatani, apa yang anda inginkan terhadap buku itu?"
"Melihat-lihat."
"Oh, tidak apa-apa. Kami pikir anda akan membawanya ke rumah."
"Memang aku tidak membawanya ke rumah, tapi aku akan mengembalikannya ke asalnya, yakni hutan di utara kota ini."
Panggilan dihentikan. Setelah panggilan tersebut, berkali-kali ponsel ibu Ira berdering, tetapi tidak dihiraukan. Ibu Ira mulai berlari.
Sementara itu, di kantor polisi
"Sial!" kata seorang opsir sambil membating telpon yang ia pegang.
"Ada apa?" kata seorang opsir lainnya.
"Kerahkan beberapa anggota kita sekarang! Dia akan membawa buku yang kita dapat itu!"
"Dia siapa?"
"Istri pelaku penabrakan di tanah lapang."
"Kemana tujuan kita?"
"Museum. Cepat! Sebelum keduluan!"
Akhirnya, beberapa opsir kepolisian dikerahkan menuju museum.
Kembali kepada ibu Ira
Ternyata, ibu Ira sampai terlebih dahulu. Kemudian, dia menanya kepada penjaga museum.
"Dimana buku kuno yang katanya polisi menemukannya. Aku ingin menelitinya, buku itu sangat hebat," kata ibu Ira.
"Pergilah ke pojok sana. Buku itu hanya diletakkan di atas meja."
"Terima kasih. Semoga hari anda menyenangkan."
Ibu Ira berlari ke pojok yang dituju. Ternyata di pojok itu, memang ada buku yang dimaksud.
"Mengapa mereka tidak menggabungnya dengan buku lain? Ah, aku tidak peduli," kata ibu Ira dalam hati.
Ibu Ira langsung mengambilnya, kemudian berlari keluar museum. Ternyata, penjaga museum menyadarinya.
"Pencuri!" teriak penjaga museum itu. Dia kemudian menekan sebuah bel, kemudian sirine berbunyi.
Beberapa pegawai museum, kemudian mengejar ibu Ira.
Tetapi ibu Ira selalu lebih awal. Ibu Ira sudah terlatih, selalu berlari tidak kenal lelah. Dia sudah terbiasa akan hal ini. Pekerjaannya di rumah lah membuatnya terbiasa.
.
Kemudian, mobil polisi tiba di depan museum. Salah satu opsir turun, kemudian berbicara kepada penjaga museum.
"Apakah sudah ada orang mengambil buku itu?"
"Ya, dan dia berlari ke arah sana," kata penjaga itu sambil menunjuk.
"Sial!"
Opsir itu kembali ke mobilnya.
"Bagaimana?" tanya rekannya.
"Kejarlah dia lagi. Dia sudah mengambilnya."
Rekannya itu mengangguk, kemudian menancap gas menuju arah yang ditunjuk oleh penjaga museum itu.
.
Sirine terdengar.
"Sial, mereka mengejarku," kata ibu Ira sambil masih berlari.
Kemudian mobil itu berada tepat di samping ibu Ira.
"Mbak, kembalikan buku itu!" teriak opsir.
"Tidak akan!" balas teriak ibu Ira.
Kemudian ibu Ira berbelok menuju jalan pintas.
.
"Sial! Dia terlalu cepat, padahal kita sudah pakai mobil."
"Tidak, dia akan mengarah kesana. Aku agak takut berkendara kesana, karena sering terjadi kecelakaan," kata rekan opsir itu.
"Halah, polisi kok takut. Sini, gantian."
Mobil itu berhenti. Mereka benar-benar ganti posisi. Setelah selesai, opsir itu menancap gas.
"Lah, kok lambat?"
"Sudah saya bilang pak, mobil ini mengarah kesana. Disana itu tempat mistis, bahkan mobil kita lambat. Tetapi motor melaju terlalu kencang juga."
"Kita harus mengejarnya!"
Opsir itu mengarahkannya juga ke jalan pintas yang dilalui ibu Ira.
Ketika mobil berkendara di jalan pintas, tiba-tiba mobil itu menjadi cepat, dan semakin cepat. Opsir itu mulai kewalahan mengendalikan mobilnya. Opsir itu sudah mengurangi kecepatan, namun mobil itu malah semakin cepat. Opsir itu semakin kewalahan, sementara jalan pintas itu tidak seperti jalan pintas, seolah-olah mereka hanya berputar-putar di tempat yang sama. Mereka menyadari hal itu, kemudian mengarahkan ke arah yang lain. Sekejap kemudian, mobil itu benar-benar tidak bisa dikendalikan, kemudian menabrak pohon.
"Sial!" kata opsir.
"Anda ini, setiap kali selalu berkata 'sial', malah anda yang sial!" kata rekannya.
"Diamlah!" kata opsir itu sambil keluar dari mobil.
.
Sementara itu, ibu Ira sudah sampai tujuan. Ya, area terbuka (mereka menyebutnya tanah lapang), yang merupakan bekas hutan. Ibu Ira mulai berlutut, kemudian membuka buku yang dibawanya. Dia tahu buku yang dibawanya itu berbahasa Sanskerta, bahasa di buku-buku zaman dulu.
"Beruntung aku diajarkan bahasa ini oleh ibuku," kata ibu Ira dalam hati.
Dia perlahan mulai memahami isi buku, kemudian dia membaca sebuah bagian dari buku. Dia terkejut dengan sebuah kalimat, kemudian dia melihat ke sampul belakang buku itu. Dia melakukan apa yang dituliskan disana.
.
Langit berubah menjadi senja, yang berwarna kekuningan. Sederhananya, 'Senja Kuning'.
.
"Sial, kita terlambat!" kata rekan opsir.
"Halah, kamu ini. Ngatain sial aja, kamu juga nyebut sial," kata opsir.
"Tidak, aku serius! Coba lihat jam anda!" kata rekan opsir sambil berlari.
Opsir itu melihat arlojinya, masih menunjukkan jam empat. Dia kemudian melihat langit, dan menyadarinya.
"Hei, tunggu aku!"
.
Sementara itu, anak-anak yang sedang bermain, ketika melihat langit mulai menguning, mereka langsung berlari ke rumah masing-masing.
.
Kembali kepada polisi, mereka tiba di area terbuka itu.
"Sudah kubilang, kita terlambat!"
Mereka melihat ibu Ira, tergeletak dengan posisi berlutut, buku kuno itu terbuka, tangannya masih memegang pisau.
Rekan opsir itu memberanikan diri mendekat, karena angin deras menerpa mereka yang datangnya entah dari mana. Tiba-tiba, ia ditarik.
"Kenapa anda menarik saya?"
Area itu mulai mengalami gempa, kemudian tumbuhlah pepohonan yang datangnya entah dari mana.
"Ini alasanku, aku merasakan gempa ini lebih awal, dan aku melihat retakan di bawah kakimu. Maafkan aku, tapi kita harus menyingkir dulu," kata opsir sambil menarik rekannya keluar dari area tersebut.
.
Gempa berhenti, langit menjadi cerah lagi.
.
"Baiklah, kita harus mengecek wanita itu," kata opsir.
Mereka kembali ke tempat yang persis sama dengan dimana mereka melihat ibu Ira disana.
"Tidak ada!" kata opsir itu.
"Sial!"
Kali ini mereka serempak mengatakan itu. Mereka melihat satu sama lain, namun mereka tidak memedulikan itu.
Ketika mereka berpaling, mereka melihat sebuah gubuk.
"Hei, sejak kapan gubuk ini ada disini? Perlukah kita buka?" kata opsir.
"Jangan!" kata rekannya.
"Kenapa?"
"Gubuk inilah penyebab bencana, aku tau mengapa semua ini terjadi, yakni Legenda Senja Kuning."
"Aku tahu tentang itu, aku kira wanita itu membalaskan dendam suaminya. Ternyata dia malah menyelamatkan kita dari berbagai bencana yang dilegendakan."
"Baiklah, kita pulang," lanjut opsir itu.
"Aku akan menelpon istriku," kata rekannya.
"Silahkan, siapa yang melarang hal itu?" jawab opsir.
.
Sebuah ponsel berdering, itu ponsel sang perawat. Dia hanya meng-iya-kan apa yang didengarnya.
Berhubung waktu bekerjanya sudah selesai, dia mengunjungi nenek Ira.
Sesampainya di ruangan nenek Ira, nenek Ira langsung berkata, "Seandainya Sri juga ada disini, maka aku tidak akan kesepian."
Perawat itu langsung meneteskan air mata, seraya berkata, "Mungkin dia menemukan rumah baru."
.
Epilog:
Di dalam gubuk itu, hanya ada sebuah meja dengan buku kuno itu di dalam laci.
Sedangkan jasad ibu Ira? Tidak ada lagi. Kurasa, jasadnya dikuburkan, di dunia Senja Kuning.
Tamat

XtGem Forum catalog