Old school Swatch Watches
Pada suatu sore....
"Ira, dimana kau nak?"
Teriakan dari ibu Ira yang terdengar sampai rumah sebelah
"Ada apa teriak-teriak?" tanya ayah Ira yang baru saja pulang dari pekerjaannya
"Ira, dia tidak ada di rumah!" kata ibu Ira yang langsung mengagetkan suaminya
"Apa?" kata ayah Ira
"Senja kuning lagi" kata ibu Ira sambil melihat ke jendela
"Aku akan mencarinya ke rumah teman-temannya" kata ayah Ira
- 30 Menit Kemudian
"Dia tidak ada di rumah temannya, anehnya teman-temannya juga tidak ada" kata ayah Ira
Kemudian telepon rumah Ira berbunyi
"Halo, ibu Ira disini" kata ibu Ira menyambut telepon
"Saya ibunya Bayu. Tadi setelah suami anda pulang, anak kami pulang juga. Apakah anak anda sudah pulang?" kata ibu Bayu
"Bayu yang mana?" kata ibu Ira
"Itu, yang berambut sebahu itu" kata ayah Ira dan ibu Bayu yang tidak sengaja serempak
"Ayah!" teriak Ira sambil berlari
"Anakku!" kata ayah Ira sambil memeluk Ira
"Tadi, kami bermain, kemudian ada sekelompok orang yang menculik kami. Kemudian kami dibawa ke sebuah tempat. Sebelum tempat itu mereka kunci, aku melawan. Aku mendorong mereka, dan kami kabur" kata Ira
"Bagaimana dengan Bayu, nak?" tanya ayah Ira
"Bukankah...." kata ibu Ira
"Psst!" kata ayah Ira
"Dia lari lebih dulu" kata Ira
"Sepertinya ada yang memanfaatkan mitos turun-temurun dalam penculikan ini" kata ayah Ira.
Sekarang giliran ibunya yang memeluk Ira. Setelah memeluk Ira, ibunya pun berkata "Sepertinya kamu harus mandi dulu"
"Baiklah" kata Ira
"Tunggu dulu, tadi aku ingin mandi juga. Tapi Ira saja lah duluan, lagipula aku masih berkeringat." kata ayah Ira
Ira pun mengambil handuknya dan pergi ke kamar mandi. Sedangkan ayah Ira bersandar di pintu.
"Tidak biasanya, senja kuning selama ini" kata ayah Ira sambil menghembuskan napas
'Ciiit......'
'Prakk!!'
"Astaga" kata ayah Ira
Ternyata kecelakaan baru saja terjadi di depan mata ayah Ira. Ayah Ira pun segera berlari ke jalan, untuk membawa korban ke teras rumah. Kemudian tetangga Ira keluar dari rumah karena mendengar suara benturan yang keras tersebut, dan membawa motor gede punya korban ke teras agar tidak menghalangi jalan, karena kejadiannya walau sebentar, sudah menyebabkan macet pendek
"Hmm...." kata ayah Ira
Ayah Ira melihat bahwa di rantai motor tersebut ada kain, dan di cek ternyata celana korban kegedean dan robek sedikit di bagian bawah yang sebelah kiri
"Sepertinya celananya tersangkut di rantai. Tapi, kenapa harus saat senja kuning" kata ayah Ira
"Aku pulang dulu ya. Kami sedang mempersiapkan makan malam di rumah" kata tetangga Ira
"Silahkan" kata ayah Ira
Beberapa saat kemudian, korban sadarkan diri
"Ayahnya Ira?" kata pria tersebut
Melihat pria (korban kecelakaan) tersebut berbicara, ayahnya Ira pun mengambilkan segelas air putih.
"Mohon maaf, anda siapa ya?" tanya ayah Ira
"Saya ayahnya Bayu" kata pria tersebut
"Tadi rencananya anda mau kemana?" tanya ayah Ira lagi
"Tadi rencananya saya memang mau kesini, setelah mendengar penjelasan Bayu bahwa setelah Ira melawan diri dia lari duluan. Jadi dia minta saya mewakili untuk minta maaf. Tapi saya tidak tahu rumah anda, tidak disangka saya diberhentikan dengan cara kasar" kata ayah Bayu sambil meneguk air yang telah disuguhkan tadi
"Syukurlah senja kuning sudah berakhir" kata ayah Ira sambil memandang langit
"Sudah hampir malam. Keluargaku pasti mencariku" kata ayah Bayu sambil bangun untuk posisi duduk
"Tidak ingin tinggal sebentar?" tanya ayah Ira menawarkan keramahannya
"Tidak, sudah kubilang keluargaku pasti sedang menungguku. Aku sudah berjanji untuk pulang sebelum malam hari" kata ayah Bayu
"Baiklah kalau itu kemauan anda. Harap tunggu sebentar" kata ayah Ira
Kemudian ayah Ira membersihkan rantai motor ayah Bayu tadi dari kain yang robek itu. Setelah itu, ayah Ira mengambil karet gelang 4 buah.
Ayah Ira pun memasangkan karet gelang tersebut masing-masing 2 pada setiap kaki tepatnya pada kain celana ayah Bayu kemudian berkata "Ini mencegah hal yang sama terulang lagi"
"Terimakasih atas keramahan anda, dan maafkan kelakuan anak kami" kata ayah Bayu sambil menaiki motornya yang agak ringsek
"Ya, tidak apa-apa. Dia masih polos." kata ayah Ira
Ayah Bayu pun pulang
"Bunyi apa tadi, dan siapa yang di teras kita tadi?" kata ibu Ira sambil memasak
"Barusan kecelakaan, korbannya ayahnya Bayu. Tetangga kita juga datang membantu menyampingkan motornya" kata ayah Ira
"Tapi ayah, Bayu tidak punya ayah walau ayah angkat. Serta, kita tidak punya tetangga. Kita di tempat yang hampir terpencil, motor pun jarang lewat di depan rumah kita" kata Ira yang sudah selesai memakai pakaiannya
Ayah Ira pun sangat terkejut, kemudian berkata, "Lalu barusan apa?"
Ayah Ira pun mencoba mengingat apa yang barusan terjadi, kemudian bertanya lagi, "Kenapa aku tidak sadar dari tadi?"
Ya, ayah Ira menyadari, bahwa jika hanya karena celana tersangkut di rantai, tidak akan menghasilkan suara 'Ciiit....' (mengerem secara paksa)
Ayah Ira pun berinisiatif mengisi air. Tapi steker pompa listrik yang mengalirkan air langsung dari tanah, tidak terhubung dengan stopkontak.
Ayah Ira tiba-tiba menyadari sesuatu.
"Ma, tadi kamu atau Ira menyalakan air gak?" tanya Ayah Ira. Setelah mendengar pertanyaan itu, Ibu Ira sedikit tertawa.
"Kenapa tertawa?", pertanyaan Ayah Ira yang tiba-tiba berganti.
"Apakah kamu tidak lihat, aku dari tadi mengurus masakan disini. Tidak mungkin kan?. Lagipula air di bak mandi masih penuh tadi saat aku mencari Ira sampai ke kamar mandi" kata Ibu Ira.
Akhirnya hal yang disadari Ayah Ira itu terbukti, air di bak mandi sama sekali tidak berkurang padahal barusan Ira mandi.
Suasana sontak menjadi hening, yang terdengar hanya suara minyak goreng panas dari wajan dapur.
Tiba-tiba terdengar suara "Brukk!". Ayah Ira yang tadinya mau mandi, tidak jadi, kemudian berlari menuju sumber datangnya suara tersebut, yakni teras.
Ayah Ira dikejutkan oleh jasad seorang gadis kecil yang penuh darah, yang ternyata jasad Ira.
Ayah Ira pun berlutut, tetesan air mata jatuh dari mata beliau. Anak beliau yang satu-satunya, tergeletak di hadapan beliau sendiri.

"Akhirnya masakanku sudah selesai" kata Ibu Ira sambil menyajikan makanan, kemudian pergi ke teras dengan tujuan melihat penyebab suara sekaligus memanggil suaminya untuk makan malam.
"Pa, makan malam sudah....", perkataan ibu Ira yang terpotong karena melihat jasad Ira.
"Ira...."
"Siapa yang berani membunuhnya" kata ibu Ira.
"Ingat apa yang dikatakan oleh hantu Ira?" kata ayah Ira.
"Kalau itu aku ingat. Dia mendorong seseorang" kata ibu Ira sambil memandang ke atas.
"Mungkin dia pelakunya. Dan mungkin dialah yang menyamar sebagai ayah Bayu barusan. Tidak kusangka ada hantu yang jujur. Mungkin juga, dia mengatakan dia ayah Bayu, karena dia mendengar teriakan Ira karena Bayu itu lari duluan" kata ayah Ira.
"Sepertinya kita harus memandikan Ira ini dulu, dan bawa ke dalam. Karena disini sudah gelap" kata ibu Ira.
"Baiklah" kata ayah Ira.

Beberapa puluh menit kemudian
"Deduksimu cukup hebat" kata ibu Ira.
"Mungkin karena pekerjaanku" kata ayah Ira.
"Menurutmu siapa pelakunya?" tanya ibu Ira.
"Senja kuning" kata ayah Ira.
"Kenapa senja kuning, padahal itu hanya mitos saja kan?" kata ibu Ira dengan nada tinggi.

*Saya sengaja terlambat memberi informasi ini, nama ayah Ira adalah "Aditya", dan nama ibu Ira "Sri Kurnia"
"Bukan senja kuningnya, tapi inisialnya sama dengan inisial pelakunya" kata ayah Ira.
Wajah ibu Ira memucat.
"S-K. Sri Kurnia. Pelakunya kamu, ma. Aku sudah mencurigaimu sejak kecelakaan sore tadi. Sepertinya itu kenalanmu. Orang yang kau suruh untuk membunuh Ira dan temannya Bayu" kata ayah Ira.
"Heh. Mungkin aku pelakunya, tapi mengapa aku mau membunuh anakku sendiri?" kata ibu Ira.
"Dia bukan anakmu!" kata ayah Ira dengan suara lantang.
"Aku sangat bersyukur dengan pekerjaanku. Satu, aku kenal banyak orang, dan sampai sekarang, belum ada orang yang berinisial S-K selain dirimu!. Dua, golongan darahmu A, golongan darahku juga A, tapi golongan darah Ira AB!" kata ayah Ira.
"Dia bukanlah anak kita!. Anak kita yang sebenarnya, itu Bayu. Ira mungkin adik tirinya. Makanya Bayu tidak mengasihani adiknya walau hanya adik tiri dan membiarkan dia terbunuh oleh ayah angkatnya" kata ayah Ira sambil menangis.

Penjelasan
Jadi, ibunya Ira ini dulu pernah bersuami. Punya anak namanya Bayu. Kemudian ayah kandung Bayu dibunuh sebelum Bayu itu lahir.
Kenalan ibu Ira (seorang pria) diserahkan untuk merawat Bayu, dan membunuhnya kemudian dilain hari


Wajah ibu Ira mulai berubah. Makanan yang sudah siap saji beliau buang. Kemudian ibu Ira mengambil pisau dan menusuk dada ayah Ira.
"Maafkan aku. Ira memang bukan anak kandung kita, serta dia terlalu cerewet" kata ibu Ira.

Penjelasan
Nah, ibu Ira ini kembali menikah, tapi dengan Aditya (ayah Ira ini). Mereka juga dikaruniai anak, yakni Ira. Tapi, anak ini adalah anak dari Ibu Ira dan ayah Bayu yang asli. Beberapa bulan sebelum melahirkan, barulah ayah Bayu dibunuh
Ibu Ira berbohong tentang anaknya yang cerewet. Ira tahu dia punya kakak (dari ayah yang berbeda), yang memberitahunya adalah kenalan ibu Ira tadi.
Oleh karena itulah, Ira mau dibunuh, tapi ayah Ira tidak boleh melihatnya. Kepanikannya mencari Ira itu hanya sandiwara. Lucunya, kenalan ibu Ira lah yang disuruh untuk membunuh Ira.
Lucunya lagi, kenalan ibu Ira itu mau. Mungkin dia kualat (membongkar rahasia ditambah membunuh anak kecil yang tidak berdosa), walhasil dia kecelakaan. Ajaibnya, dia diselamatkan ayahnya Ira. Dia mengaku ayahnya Bayu, karena dia memang ayah (angkat)nya Bayu. Ibu Ira hanya diam saat kecelakaan itu (padahal suaranya keras), karena ibu Ira tahu juga tentang pengkhianatannya (karena kepolosan Ira).


Ayah Ira terbujur kaku karena tusukan langsung ke jantung. Kemudian dicabutlah pisau itu dari dada ayah Ira.
Ibu Ira tidak panik, beliau mengambil persediaan minyak tanah, menghamburkannya kesana-sini. Kemudian menyalakan korek api, dan melemparnya ke lantai.
Api pun mulai berkobar. Jasad ayah Ira dan Ira ditarik ke dalam, disandarkan ke dinding.
Pintu dikunci rapat. Ibu Ira pun bersandar juga, sementara api semakin menyala-nyala.
Ibu Ira meneteskan air mata, dan berkata, "Maafkan ibu, Ira". Kemudian jasad Ira diletakkan di antara pangkuan suaminya dan dirinya. Kemudian dia menusuk dirinya. Sementara itu, rumahnya dibiarkan terbakar hebat. Ternyata, ibunya masih menginginkan Ira merasakan kasih sayang yang bisa dilihat orang.

Keesokan harinya
Rumah itu berhasil dipadamkan. Pemadaman api dimulai pukul 01.00 pada hari itu dikarenakan tempat yang hampir terpencil, dan berakhir saat matahari terbit.
Para pemadam kebakaran, menemukan jasad dengan keadaan yang sesuai dengan ibu Ira inginkan. Masih berbentuk seperti yang direncanakan.
Tetapi, harapan ibu Ira yang dulu saat muda, yakni merawat anaknya sampai Tuhan yang mencabut nyawanya, tidak akan tercapai karena beliau sendiri.

Epilog
Lengkap sudah, kejadian yang dimitoskan saat senja kuning.
Penculikan, munculnya hantu, kecelakaan, pembunuhan, dan kebakaran.
Tidak ada yang tahu, apakah senja kuning, adalah hal yang benar-benar menyebabkan kejadian-kejadian tersebut.
Yang pasti, ucapan orang zaman dulu ada benarnya juga. Alangkah baiknya, kita pulang secepatnya, ketika matahari hampir terbenam, bukannya malah pergi keluar rumah.

TAMAT
Seri Pendek Cerita "Legenda Senja Kuning" hanyalah fiksi. Tidak ada maksud menyudutkan pihak manapun. Kesamaan nama tokoh bukanlah kesengajaan.