Duck hunt
Senja Kuning

"Bu, aku ingin main sama teman-teman dulu ya", kata Ira.
"Jangan terlalu lama!", kata ibu Ira.
Mereka tidak pernah tau, senja kuning yang terburuk akan tiba.
.
"Hari ini kita main petak umpet saja", kata Gita.
"Tetapi mengapa harus disini Git?", tanya Bayu sambil memandang ke sekeliling, hanya pohon yang terlihat.
"Disini banyak pohon, jadi lebih mudah ngumpetnya", kata Gita.
Ira hanya bisa melongo karena kebingungan.
"Baiklah, kita mulai!", kata Gita dengan semangat.
"Hompimpah alaium gambreng,"
"Gita kena!!,"
"Kenapa harus aku?", kata Gita.
"Lah, kan emang kamu yang kena?", kata Dwi.
"Baiklah, aku hitung mulai sekarang", kata Gita sambil berpaling menghadap pohon.
"Satu!!,"
Mereka mulai mencari tempat sembunyi, dan kemudian...
"Sembilan!!,"
Sinar itu mulai datang, lembayung yang ditakuti oleh masyakat.
"Mm! Tolong!",
Ira mencoba berteriak namun tidak berhasil, karena mulutnya ditutup oleh seseorang.
"Sepuluh!!, Sudah atau belum tetap kucari!", teriak Gita.
Diapun berpaling, dan tiba-tiba, pemandangan berubah menjadi lapangan hijau yang luas.
"Teman-teman?, teman-teman?!. Dimana kalian?!", teriak Gita lagi.
Kemudian ada yang menepuk bahu Gita. Tentu saja Gita kaget, sampai-sampai dia terjatuh.
"Ani?, apa yang kau lakukan disini?", tanya Gita.
"Seharusnya aku yang nanya", jawab Ani sambil tersenyum.
Gita mulai kebingungan.
"Apa maksudmu?", tanya Gita lagi keheranan.
Kemudian anak-anak lain bermunculan dan berkata secara serempak, "Selamat datang di dunia senja kuning".
Gita semakin heran, tetapi belum sempat mulutnya berucap, salah satu anak laki-laki maju.
"Kami juga sepertimu, Git. Hutan itu menjebak kita", ujar anak laki-laki tersebut.
"Kemudian, bagaimana cara kita agar keluar dari sini?", tanya Gita yang mulai cemas.
"Entah, kamipun tidak tau", jawab anak laki-laki itu.
Gita hanya bisa menundukkan kepala, menyesali pilihannya untuk bermain di hutan itu.
Sementara itu (di dunia nyata)
"Tunggu dulu, dimana Ira tadi?. Perasaan tadi dia di sebelahku", kata Bayu yang menyadari hilangnya Ira.
Tiba-tiba, ada juga yang menutup mulut Bayu. Dia memberontak sekuat tenaga, akan tetapi pemberontakannya tidak begitu berguna. Dia hanya pasrah.
Tetapi dia melihat wajah penculiknya, ternyata...
Sementara itu (di rumah Ira)
Ibu Ira mulai diterpa kecemasan yang begitu kuat, beliau hanya bisa mondar-mandir. Beliau sudah menelpon sesama orang tua, malah mereka mengatakan anak mereka lebih lama tidak pulang dari Ira.
Datanglah ayah Ira dari pekerjaannya, dan langsung meletakkan tas punggungnya ke atas meja yang memang sering digunakannya untuk pekerjaan yang tidak selesai di kantor.
"Ada apa begitu cemas mah?", tanya ayah Ira yang belum tau apa-apa.
"Ira pah, dia belum pulang", kata ibu Ira sambil mengguncang bahu suaminya.
"Lah, kenapa dibolehin keluar rumah coba?", tanya ayah Ira dengan nada agak tinggi.
"Kan ketika kubolehin dia selalu pulang, tapi hari ini tidak", kata ibu Ira sambil bersedih.
"Kalau aku ketemu, jangan bolehin lagi dia main sore-sore kayak gini", kata ayah Ira yang kembali ke motornya.
"Baiklah, hati-hati ya pah", kata ibu Ira menyalami suaminya itu.
Ayah Ira pun pergi lagi, ditengah perjalanan dia teringat satu tempat yang mungkin dikunjungi anaknya, hutan yang kurang lebih 500 meter jauhnya dari rumah. Beliaupun pergi kesana dengan kecepatan yang begitu tinggi.
Ketika hampir sampai...
"Ada apa ini, pandanganku mulai buram...", kata ayah Ira.
Prakk!!
Ayah Ira menabrak salah satu pohon.
Tidak berapa lama kemudian
Ayah Ira terbangun. Diapun melihat ke sekitar. Tidak ada pemandangan selain pepohonan dan motornya yang agak penyok di bagian depan.
Dia kemudian berdiri, menyapu bajunya yang agak terkena tanah, kemudian membangunkan sepedanya.
Tiba-tiba, ada seorang anak laki-laki muncul tepat di belakang pohon yang barusan ditabraknya.
Ketika ayah Ira sudah ingin melanjutkan perjalanan mencari anaknya, anak laki-laki tersebut malah pergi ke arahnya dan langsung memeluknya.
"Ayahnya Ira...", begitu katanya sambil meneteskan air mata.
Ayah Ira ternyata santai saja, kemudian dia berkata, "Siapa kamu?".
"Aku anak Andri", jawab anak laki-laki tersebut sambil menyapu air matanya dan memandang ayah Ira.
Ayah Ira hanya mengangguk sambil mencoba memahami apa yang barusan terjadi.
"Ngomong-ngomong, apakah kamu melihat Ira?", tanya ayah Ira.
"Kurasa tidak, tetapi aku melihat Gita", kata anak tersebut.
"Dimana?", tanya ayah Ira.
"Di dunia senja", jawab anak itu.
Ayah Ira yang mulai penasaran kembali turun dari motornya, kemudian berlutut satu kaki, dan memegang pipi anak itu.
"Apakah disana ada Ira?", kata ayah Ira.
"Kurasa, tidak ada. Tapi aku tahu dimana tempat teman-temanku hilang selain di dunia senja kuning itu", kata anak itu.
"Bisakah kau ikut aku, kemudian kau mengarahkan jalannya?", ajak ayah Ira.
"Tentu!", jawab anak itu dengan semangat.
Kemudian anak itu menaiki motor, dan duduk di depan ayah Ira.
Merekapun pergi ke tempat yang dimaksud anak itu.
Sementara itu...
Tetapi dia melihat wajah penculiknya, ternyata itu ayahnya sendiri. Dia dibawa entah kemana.
20 Menit Kemudian
Akhirnya telah diketahui tujuan ayah Ira sekaligus tujuan Bayu.
Sebuah gubuk di tengah hutan.
Mereka datang pada saat bersamaan.
Ayah Ira dengan penuh kemarahan, melepas helmnya dan meletakkannya di spion, kemudian mengarah kepada penculik itu.
Kemudian ayah Ira menggenggam kerah baju penculik itu, dan membantingnya ke pohon.
"Beritahukan padaku!, dimana Ira!", kata ayah Ira yang marah dengan nada tinggi.
"Dia di dalam sana...", kata penculik itu.
Ayah Ira kemudian melepaskan genggamannya dan penculik itu langsung terduduk.
"Ira...", teriak ayah Ira di dalam gubuk itu.
Irapun muncul, kemudian berlari dan langsung memeluk ayahnya.
Sementara itu (di luar)
Plakk
Penculik itu mengelus pipinya.
"Apa yang kau lakukan yah?", kata Bayu yang begitu marah dengan ayahnya.
"Ayah hanya melakukan apa yang diperintahkan...", kata penculik itu.
"Siapa? Tuhan saja tidak akan memperintahkan seperti itu!", kata Bayu.
"Aku benci ayah!", kata Bayu sambil menendang tubuh ayahnya.
Ayahnya Ira keluar dari gubuk itu. Setelah itu beliau menaiki motornya setelah anak laki-laki yang dia temukan itu, Bayu, dan Ira naik, kemudian beliau memasang helmnya dan kembali ke rumah.
Penculik itu menggerakan tangannya, seolah dia minta tunggu oleh anaknya.
Di dunia Senja Kuning
Ketika Gita mengangkat kepalanya, anak laki-laki itu sudah menghilang.
"Kemana perginya?", tanya Gita keheranan.
"Entahlah", jawab Ani sambil mengangkat bahunya.
Kemudian, dunia Senja Kuning dilanda gempa. Tak berapa lama, gempa berhenti dan muncullah sebuah pohon dari bawah tanah. Di pohon tersebut, terlihat bekas tertabrak.
Gita mulai berpikir keras, sambil mondar-mandir. Akhirnya dia memahami apa yang terjadi, dan langsung terduduk.
"Ada apa Git?", tanya Ani.
"Berapa pohon di hutan kita itu?", tanya Gita balik.
"Mungkin 500 atau lebih", jawab Ani sambil memandang ke atas.
"Berapa jumlah orang disini?", tanya Gita lagi.
"499, setelah teman kita tadi menghilang", jawab Ani dengan begitu yakin.
"Maka sebanyak itulah tabrakan di hutan yang diperlukan agar kita bebas", kata Gita dengan suara pelan kemudian dia tertunduk lagi dan meneteskan air mata.
Di dunia nyata
Selama perjalanan pulang, ayah Ira singgah beberapa kali. Yang pertama, dia menurunkan anak pak Andri tepat di depan rumah. Begitu juga dengan Bayu, dia diturunkan tepat di depan rumahnya. Dan terakhir, mereka sampai ke rumah mereka.
"Setelah ini langsung mandi ya", kata ayah Ira menurunkan anaknya.
Ira pun membuka pintu, dan langsung disambut dengan pelukan dari ibunya.
"Ibu merindukanmu Ira, apa yang terjadi denganmu tadi?", kata ibu Ira sambil meneteskan air mata.
"Aku diculik, tapi ayah menyelamatkanku", kata Ira dengan polosnya.
Ayah Ira pun masuk ke dalam rumah, kemudian menutup pintu.
"Baiklah, aku ingin mandi dulu", kata Ira sambil pergi mengambil handuknya.
Setelah itu, Ira pun pergi ke kamar mandi.
"Kamu tidak berlebihan kan?", tanya ibu Ira pada suaminya.
"Tidak", kata ayah Ira sambil tersenyum.
.
Senja berganti malam, apakah 'Legenda' ini akan berakhir begitu saja? Kurasa tidak.
.
"Brengsek kau Indra!"
Sudah malam hari, apakah di dunia senja kuning berubah menjadi malam?. Tidak!.
"Oh Tuhan, aku ingin sekali keluar dari sini", kata Gita.
.
Penculik itu, bukan, ayahnya Bayu itu akhirnya dapat bangun, entah dapat kekuatan dari mana.
.
Irapun pergi ke kamarnya dengan masih memakai baju handuk. Kemudian ayah Ira yang mandi.
Setelah ayah Ira mandi, dia pergi ke kamarnya.
.
Ayah Bayu memasuki gubuk itu, entah bagaimana gubuk itu bercahaya. Dia membongkar semua yang ada di gubuk itu, akhirnya dia menemukan apa yang dia cari.
.
Ira sudah berganti pakaian. Begitu juga ayahnya. Mereka sama-sama pergi ke ruang makan, untuk makan tentunya. Mereka begitu lahap memakan makanan yang baru saja dimasak oleh ibu Ira.
.
Didapatnya dari laci sebuah meja usang di tengah gubuk, sebuah buku kuno, masih berhuruf palawa dan berbahasa sanskerta.
Ketika dia membuka buku itu, buku itu bercahaya, dan otomatis terbalik ke sebuah halaman.
.
"Entah kenapa aku merasa buruk", kata ibu Ira.
.
Dia mulai membaca isi buku tersebut, hebatnya dia membacanya begitu lancar. Akhirnya terjadi sesuatu.
.
Seberkas cahaya muncul dari bawah Ira. Sedetik kemudian, Ira pun hilang. Ayahnya mencoba menyelamatkan namun gagal.
"Sial!", kata ayah Ira sambil memukul kursi yang baru saja diduduki Ira.
.
Sesaat kemudian, Ira muncul di gubuk itu. Ayah Bayu yang sudah begitu marah, mendekati Ira dengan pisau ditangannya. Rupanya di laci yang sama, juga terdapat pisau.
"Ini semua karena ayahmu!", teriak ayah Bayu sambil menusuk pisau ke tubuh Ira.
Setelah diduga mati, Ira menghilang.
"Berhasil", kata ayah Bayu.
.
Prakk
Suara itu berasal dari teras. Ibu Ira yang sudah merasa buruk langsung berlari menuju teras itu sendiri. Didapatnya tubuh Ira yang terbujur kaku, dengan satu tusukan di tubuhnya. Di dalam tusukan itu, terdapat satu kertas yang seolah-olah mempan terhadap darah yang masih mengalir.
Ini semua karenamu Indra!. Kamu sudah menggagalkan ritualku!

Begitu tulisannya kira-kira. Ibu Ira yang membaca kertas tersebut terlebih dahulu, memanggil suaminya.
Ternyata belum sempat dipanggil, suaminya sudah ada di belakang.
"Aku pergi, walaupun nanti untuk selamanya", kata ayah Ira.
Ayah Ira memasang helmnya kemudian kembali berkendara ke hutan itu. Dia sudah tidak peduli semuanya. Bahkan, dia tidak memperdulikan berapa monster yang ditemuinya.
Ayah Ira akhirnya menemukan gubuk itu. Karena kemarahannya yang begitu menggebu-gebu, dia langsung menabrakkan motornya ke gubuk itu.
.
Ayah Bayu yang masih tersenyum karena mantranya berhasil, dikejutkan dengan datangnya motor dan dia langsung tertabrak.
.
Ayah Ira sudah tidak peduli lagi. Dia terus berkendara dengan cepat walau tubuh ayah Bayu yang tertabrak masih ada dihadapannya.
Prakk
Ayah Ira menabrak batu. Tubuh ayah Bayu otomatis terjepit disana. Dan tak berapa lama kemudian...
Duarr!
Ledakan yang begitu dahsyat sampai membakar seluruh hutan.
.
Seberkas cahaya mulai muncul di setiap teras rumah warga.
.
Begitu juga di dunia senja kuning, seberkas cahaya muncul dibawah tubuh setiap anak. Tak berapa lama, akhirnya, semua anak terbebas dari dunia senja kuning.
.
Para orang tua keluar dari rumahnya dan menyambut anaknya yang sudah lama menghilang dengan pelukan disertai isak tangisan.
.
Semuanya berakhir bahagia, kecuali rumah Ira. Rupanya ayah Bayu tidak menutup buku kuno itu.
.
Api tiba-tiba muncul dari rumah Ira. Ibu Ira yang diteras berteriak minta tolong, namun tidak ada yang bisa menolongnya. Dia berusaha sendiri, bolak-balik dari kamar mandi hanya untuk menyiram dari dalam.
Tetapi tetap saja tidak sanggup, dan ibu Ira begitu kelelahan, dan pingsan di tengah-tengah rumah.
.
Keesokan harinya
Akhirnya para pemadam kebakaran berhasil menaklukan sang jago merah. Kedatangan pemadam yang lambat memang disebabkan rumah Ira bertempat lebih terpencil.
.
Bagaimana dengan hutan yang terbakar?. Hutan itu menghilang, berubah menjadi tanah lapang, dengan jasad 2 orang yang hangus terbakar di dekat batu besar, satu motor yang terbakar juga, dan satu buku kuno.
Polisi yang juga datang menyelidiki penyebab kematian 2 orang itu, mengamankan buku kuno, dan meletakkannya di museum.
.
TAMAT
.
Cerita ini hanya fiksi, bahkan fantasi. Kesamaan bukan kesengajaan. Tidak ada maksud menyudutkan pihak manapun.