Old school Easter eggs.
Keesokan harinya
"Aku pergi ke sekolah dulu ya!," kataku sesudah menyalami kedua orang tuaku.
Hari ini sungguh berbeda, karena aku akhirnya dapat mencium tangan kedua orang tuaku setelah sekian lama berpisah. Aku merasakan sesuatu, aku menyebutnya 'bahagia'. Aku berjalan seperti biasa menuju sekolah.
"Jam pertama dimulai." Demikianlah suara bel yang terdengar di seluruh penjuru sekolah.
Jam pertama hari ini adalah Bahasa Inggris, pelajaran kesukaanku.
Hanya setelah 20 menit, tiba-tiba aku begitu ingin buang air kecil.
Aku maju ke meja guru, kemudian berkata, "Excuse me, I want go to toilet". Hal itu adalah sebuah keharusan dalam pelajaran Bahasa Inggris. Kalau tidak, guru Bahasa Inggris itu tidak akan mengizinkan.
Setelah diizinkan, aku langsung berlari menuju toilet. Sekembalinya dari toilet, aku mendapati pulpenku sudah hilang. Padahal aku begitu ingat bahwa aku meletakkannya di atas meja.
Aku duduk di kursiku, kemudian menanyakan kepada Dian, teman sebangkuku. Dia sebenarnya pendiam, namun entah kenapa dia selalu berbuat baik kepadaku.
"Dian, apakah kamu melihat pulpenku?," tanyaku.
"Tidak, tapi aku terakhir melihatnya diletakkan diatas mejamu," jawabnya.
Aku begitu heran, mengapa dalam waktu sesingkat itu, pulpenku bisa hilang.
"Bukan kamu kan yang mengambilnya?," tanyaku.
"Tentu bukan, lagipula untuk apa aku mengambil pulpenmu, aku saja sudah punya banyak di rumah", jawabnya.
"Pengumuman!. Bagi seluruh dewan guru, harap sesegeranya pergi ke kantor, karena kita akan melaksanakan rapat.", suara pengumuman yang terdengar sampai kelasku.
"Okay, because that announcement, I will out. And then, all of you, just be silent and don't go out. See you," kata guru Bahasa Inggris sambil berdiri dari kursinya, merapikan bukunya dan pergi keluar.
"See you, sir," jawab kami.
Dan beliau meninggalkan kelas kami. Sementara itu, aku hanya memikirkan, siapa yang mengambil pulpenku.
Sementara itu, aku lebih penasaran, ada apa dengan pengumuman mendadak tersebut. Aku pun keluar kelas, tanpa menghiraukan apa yang diinginkan guru Bahasa Inggris itu.
Sementara itu (di kantor)
Semua guru telah berdatangan. Aku hanya dapat mengintip dari jauh, tetapi karena kantor menggunakan pengeras suara walau didalam ruangan, maka suara mereka dapat terdengar.
"Baiklah, terimakasih telah mau datang," kata pak Kepala Sekolah.
"Memangnya ada apa?," tanya guru Bahasa Inggris yang suara beliau memang nyaring.
"Terimakasih telah bertanya," jawab pak Kepala Sekolah.
"Di laboratorium bahasa, dan ruang multimedia kita, komputer disana, semuanya hilang!," papar pak Kepala Sekolah.
"Apa?," kata semua guru yang hampir serempak karena begitu terkejut akan berita tersebut.
"Memang kenyataannya begitu," kata pak Kepala Sekolah dengan nada sedih.
Aku yang juga tidak percaya dengan hal tersebut, langsung berlari menuju laboratorium komputer. Rupanya langkah kakiku begitu nyaring.
Guru Bahasa Inggris, yang memang letak meja beliau dekat sekali dengan pintu kantor, melihat keluar.
"Nafis!," teriak Guru Bahasa Inggris.
"Sial!," kataku dalam hati.
"What, sir?," kataku sambil berpaling.
"Back to your class!," perintah guru Bahasa Inggris.
"But i want to know about those missing thing!," kataku.
Guru Bahasa Inggris itu kemudian mengingat sesuatu.
Enam bulan yang lalu
"Dimana motorku, kurasa aku memarkirkannya disini," kata Guru Bahasa Inggris itu di tempat parkir guru.
"Hello sir?. What do you searching for?," tanyaku yang kebetulan lewat.
"I'm searching my motorcycle, i left in here last morning but now it's gone," begitu jawab beliau.
"The security move your motorcycle into safer place,", kataku sambil menunjuk tempat parkir satunya.
"Are the motorcycles is move there?,", tanya beliau lagi.
"Yes, sir," jawabku.
"Syukurlah," kata beliau yang langsung lega.
Sekarang
"Do it,", kata beliau padaku sambil tersenyum.
"Firman, rapatnya belum selesai, kenapa kamu keluar?," kata seseorang yang hanya kepalanya keluar dari pintu.
Aku langsung bersembunyi dibalik tiang.
"Tadi ponselku bergetar, kurasa ada yang menelpon," kata beliau.
"Lebih baik sekarang kamu kembali kedalam," kata orang tadi.
Guru Bahasa Inggris itupun kembali ke dalam kantor. Sementara aku melanjutkan perjalananku ke ruang laboratorium bahasa karena lebih dekat.
Ternyata benar, komputer sudah hilang semua. Aku mengelilingi ruangan tersebut, kalau-kalau ada yang ditinggalkan pencuri itu.
Di salah satu meja, aku menemukan sebuah kertas yang sepertinya masih baru. Tentu saja aku tidak mau menyentuhnya, karena jika ada polisi, pasti aku dituduh jadi pelakunya.
Rencana utama gagal. Inilah balasannya.

"Oh, ini bukan khayalanku," kataku dalam hati.
Aku mengelilingi ruangan itu sekali lagi dan hanya meninggalkan foto buram. Kurasa didalamya ada meja, namun foto tersebut sobek.
"Sepertinya tidak ada lagi, saatnya keluar," kataku.
Setelah keluar, aku melanjutkan ke ruang multimedia. Disana ada kamera, kulihat didalamnya tidak ada apa-apa, dan kuyakin ini milik Bapak ketua tim Humas sekolah kami. Kemudian aku mengelilingi ruangan itu.
Aku menemukan kertas, disana juga ada pulpenku.
"Bagaimana pulpenku bisa ada disini?," tanyaku pada diriku sendiri.
Aku langsung mengambil pulpenku, dan membaca tulisan di kertas itu, tanpa menyentuhnya tentunya.
Apa yang sudah kubilang, itu kenyataan. Kesalahpahaman masih berlanjut.

Aku hanya mencoba memahami maksud tulisan di kertas-kertas itu, sambil mengelilingi ruangan itu sekali lagi. Kemudian aku menemukan sebuah kertas.
Rasa iri tidak akan mati.

Begitulah tulisannya. Aku semakin dibingungkan, tapi aku berencana melanjutkan pemikiran ini di kelas saja.
Ketika perjalanan kembali ke kelas, aku mendengar perbincangan seseorang.
"Kurasa aku kenal suara itu," kataku.
Aku melihat ke parkiran dari lorong terbuka ini, ada mobil polisi.
"Dia lagi!", kataku dengan kesal.
Akupun berjalan melalui jalan lain. Dan akhirnya aku tiba di kelas, dan aku duduk di kursiku.
"Ada apa tadi?," tanya Dian.
"Aku tiba-tiba ingin ke toilet lagi, mungkin pagi tadi aku terlalu banyak makan makanan pedas, sisa cemilan kemarin yang kumasukkan dalam kulkas", kataku.
"Oh ya, apakah kau sudah menemukan pulpenmu?," tanya Dian mengganti topik secara tiba-tiba.
"Ya, dan tahukah kamu, aku menemukannya di ruang multimedia," kataku.
Dianpun juga kebingungan. Dan aku menyadari sesuatu.
"Tidak biasanya Fadli tidak hadir," kataku dalam hati.
"Bukankah kau mengatakannya, bahwa dia bepergian?," tanya Dian balik.
Kemarin malam
Aku memang tidak memedulikan keadaan, walau malam dan jalanan sepi, aku tetap pergi ke masjid untuk shalat isya. Ketika aku pulang, Fadli memanggilku.
"Fis!," teriaknya.
"Ada apa?," jawabku sambil mendekatinya.
"Sepertinya aku besok akan bepergian, ini suratnya, tolong berikan kepada guru yang mengajar besok jika aku benar-benar bepergian, jika tidak, simpan saja dulu," kata Fadli sambil menyerahkan sebuah amplop padaku.
"Insyaa Allah, kalau aku ingat," jawabku.
Sekarang
"Oh iya juga ya, aku sampai lupa," kataku.
Rapat itu begitu lama, sampai-sampai tiba waktu zuhur, tidak ada yang dipelajari. Sebuah kebiasaan, dimana sekolah kami mengizinkan menggunakan sandal, asalkan untuk berwudhu pada waktu zuhur.
"Aku duluan," kata Dian.
Tidak berapa lama setelahnya, aku keluar untuk mengambil sandalku. Ternyata tidak ada.
"Kurasa dari kemarin, sandalku kuletakkan disini," kataku dalam hati sambil melihat rak sepatu dan sandal.
Tidak berapa lama kemudian, Dian kembali. Ternyata dia yang memakai sandalku.
"Kenapa kau menggunakan sandalku tanpa memberitahuku?," tanyaku pada Dian.
"Aku sudah mencari sandalku, tapi tidak ketemu," jawab Dian.
Datang juga temanku, kemudian langsung berkata, "Nah Dian sandalmu, aku lupa bahwa sandalku diletakkan di laci mejaku, jadi aku akan mengambilnya."
Untung saja rapat itu memperdulikan waktu shalat, beberapa guru berwudhu juga.
Setelah aku selesai berwudhu, akupun ke mushalla sekolahku itu. Aku berencana mempersiapkan mushalla tersebut, agar bisa langsung digunakan saat waktu shalat.
Ternyata sound systemnya tidak ada, sehingga susah untuk azan nantinya.
Tak berapa lama kemudian, masuklah ke mushalla, dengan suara batuk.
"Aku yakin itu pasti dia," kataku.
Akupun berpaling, dan ternyata dugaanku benar. Itu pak Kurniawan.
"Eh Nafis," katanya saat mendekatiku kemudian menepuk bahuku.
"Apa yang kau lakukan?," tanyanya.
"Aku sedang mempersiapkan mushalla ini, ternyata sound systemnya tidak ada, dan suaraku tidak terlalu nyaring seperti Bilal," jawabku sambil memandang wajahnya yang masih meneteskan air.
"Waktu zuhur telah tiba," demikianlah bunyi bel sekolahku yang terdengar sampai kedalam mushalla ini.
"Baiklah, aku saja," kata pak Kuriawan.
Aku hanya terheran-heran, sambil memahami apa yang dimaksud pak Kurniawan. Sementara itu, pak Kurniawan sendiri kembali keluar.
"Apa yang dilakukannya?," tanyaku dalam hatiku.
"Allahu akbar, Allahu akbar,"
"Tunggu, apa?," kataku dalam hatiku.
"Allahu akbar, Allahu akbar,"
Aku seolah-olah merasakan angin sepoi-sepoi meniup tubuhku. Pertama kalinya aku mendengar pak Kurniawan azan. Suaranya begitu merdu ketika azan, dibandingkan dengan perbincangan sehari-hari dengannya. Dan suaranya juga nyaring, aku yakin bahkan kelasku mendengarnya juga.
Singkat cerita
Selesailah waktu zuhur. Aku langsung mendekati pak Kurniawan, dan berkata, "Hebat juga anda, pak," sambil mengacungkan jempol.
"Ah, itu biasa saja," kata pak Kurniawan mencoba merendahkan diri.
"Oh ya, apakah kau sudah tahu pelakunya?," potong pak Kurniawan secara tiba-tiba.
"A-apa maksud anda?," tanyaku seolah-olah tidak tahu apa yang dimaksud beliau.
"Pelaku pencurian komputer itu, aku yakin kamu menyelidikinya juga," kata beliau.
Aku hanya terdiam. Kemudian aku menyadari sesuatu.
Aku melihat kembali sound system itu, benar saja, ada surat bertuliskan:
Rasa iri tidak akan pernah berakhir

"Ada apa, Fis?," tanya pak Kurniawan.
Aku yang kaget langsung berpaling seraya berkata, "Tidak apa-apa, pak."
Pak Kurniawan yang begitu skeptis akan perkataanku, mulai mendekatiku. Akupun menyingkir sedikit, agar beliau melihatnya juga.
"Sebuah surat?, apakah mungkin seorang pencuri meninggalkan surat?," tanya Pak Kurniawan.
"Ya, siapa tahu?," kataku.
"Kyaa," teriakan yang terdengar dari luar.
Aku dan pak Kurniawan dengan spontan keluar mencari sumber suara itu. Tidak sempat kesana, kami melihat pencuri itu sendiri dengan membawa sebuah tas berwarna merah muda. Pencuri itu, begitu cepat larinya.
"Pak, anda kejar pencuri itu, aku mengecek keadaan korban," kataku dengan begitu cemas.
"Oke!," kata pak Kurniawan mengangguk kemudian berlari mengejar pencuri itu.
Sementara itu, aku mendekati korban. Aku bisa melihatnya dari jauh. Sudah kuduga, korban terbaring, mungkin pingsan, tetapi...
"Dian!, apa yang kau lakukan disana?!," teriakku.
Dian memegang sebuah pisau. Aku langsung berlari kesana. Dia mencoba menancapkan pisau itu ke tubuh korban.
"Berhenti!," kataku sambil menahan tangannya.
"Apa yang kau coba lakukan, bung?," tanyaku dengan nada tinggi.
Dian hanya terdiam, kemudian melepaskan pisau dari genggamannya. Sementara itu, para anggota Palang Merah Remaja mengangkat korban pencurian itu ke UKS.
"Aku membenci orang itu!," kata Dian.
"Mengapa kau membencinya?," kataku.
"Kamu masih ingat, siapa yang meminjam sandalku?," tanyanya.
"Iya, memangnya kenapa?," kataku lagi.
"Dia itu begitu memaksa temanmu itu menyerahkan sandalnya. Dan temanmu itu, terlalu berani, sandalku dirusak-rusaknya!," kata Dian.
"Kemudian, bagaimana caramu pergi ke mushalla?," tanyaku.
"Aku terpaksa memakai sepatuku!," jawab Dian.
"Kau boleh mengambil sendalku kalau kau mau, jadi tidak perlu bilang sama aku lagi," kataku.
"Benarkah?," tanya Dian.
"Tentu," kataku sambil tersenyum.
"Baiklah, aku pergi dulu, jangan sampai emosimu mengambil alih dirimu lagi ya," kataku sambil pergi.
Dianpun jadi tersenyum.
Dari kejauhan, aku bisa melihat pertarungan terjadi. Antara pak Kurniawan dan pencuri tas itu.
Aku langsung berlari menuju mereka.
Saat aku sampai, pak Kurniawan mengambil alih, dia ambil tangan pencuri itu, kemudian mengambil ancang-ancang, dan membanting pencuri itu.
"Akhirnya," kata pak Kurniawan begitu lega.
Kemudian, dia membuka topeng yang hanya dibuat dari kertas itu.
"Kamu?," kataku yang dikagetkan lagi.
"Apakah kamu mengenalnya?," tanya pak Kurniawan.
"Tentu saja, ini teman sekelasku," kataku.
"Sebelumnya dia juga mengambil sendal sahabatku," lanjutku.
"Mengapa kamu mengambil tas ini?," kata pak Kurniawan.
"Aku membenci orang yang punya tas ini," kata temanku itu.
"Mengapa kamu membencinya?," tanya pak Kurniawan lagi.
"Aku sudah muak dipaksanya," jawabnya.
"Kesinambungan mulai muncul, tapi masih ada yang kurang," kataku dalam hati.
"Kamu tidak akan dipenjara kok. Ini termasuk pencurian ringan, tugasmu hanya mengembalikan tas ini ke orangnya, kemudian menyerahkan dirimu ke guru BK," kata pak Kurniawan sambil membangunkan temanku itu.
"Terimakasih pak," katanya sambil menunduk kemudian pergi ke kelas untuk mengembalikan tas itu.
"Kasus sudah selesai," kata pak Kurniawan.
"Kurasa tidak pak," kataku.
"Apa maksudmu?," tanya pak Kurniawan padaku.
"Aku merasa masih ada yang kurang," jawabku.
"Apa itu?," tanya pak Kurniawan lagi.
"Belum semuanya terpecahkan," kataku sambil memandang wajah pak Kurniawan.
"Terus?," tanya pak Kurniawan.
"Masih banyak hal-hal yang janggal pada kasus ini," kataku.
"Oh ya, apakah anda sudah menyelidiki keseluruhan?," tanyaku balik kepada pak Kurniawan.
"Tentu, aku sudah menyelidiki beberapa bukti termasuk....,"
Pip Pip
Pak Kurniawan mulai merogoh sakunya, kemudian berkata, "Sial!."
"Ada apa pak?," tanyaku.
Tiba-tiba, mobil pak Kurniawan, bergerak sendiri, berpaling, kemudian melaju kencang keluar dari sekolahku.
"Kurasa kau sudah tahu sekarang," jawab pak Kurniawan.
Rupanya beliau mengenali suara mobilnya, kemudian merogoh saku dan ternyata kunci mobil tertinggal disana, entah sejak kapan.
"Kapan anda meninggalkan kunci itu di mobil?," tanyaku.
"Entahlah, mungkin saja sejak aku datang kesini," jawab pak Kurniawan mencoba mengingatnya.
Aku hanya terdiam mendengar perkataan beliau, kemudian teringat sesuatu, dan berkata, "Apa yang ingin anda katakan tadi?," kataku yang mencoba mengubah suasana.
"Surat yang sama, di mushalla dengan di ruang multimedia," kata pak Kurniawan.
"Apa pendapat anda mengenai hal tersebut?," tanyaku.
"Pelaku yang sama?," tanya pak Kurniawan balik.
"Mungkin saja," kataku.
"Kurniawan, kesini!," teriak seseorang dari kejauhan, kurasa itu guru Bahasa Inggris.
"Baiklah, aku juga ingin ke kelas dulu," kataku.
"Oke," kata pak Kurniawan sambil mendekati sumber suara.
Akupun ke kelas, dengan harapan pencurian berantai ini berakhir. Ternyata tidak.
Saat aku masuk kelas, dimana belum ada ada seseorang berpakaian seperti pencuri, mengotak-atik isi tasku. Ketika aku melihatnya, dia malah berlari ke arahku, dengan membawa beberapa bekalku.
Saat itu, aku mau mencoba kemampuanku. Aku berencana menangkap tangannya, kemudian membantingnya. Ternyata meleset, dan dia berhasil kabur.
Aku mencoba mengejarnya, namun entah bagaimana, dia begitu hebat. Saking hebatnya, dia dapat melompati pagar.
Aku begitu kecewa, seraya berkata "Sial!."
Aku langsung kembali ke kelas, lagi. Di tengah perjalanan, aku melihat Dian dan temanku yang mencuri tas tadi berada di ruang BK. Aku hanya bisa tersenyum, karena mereka menyerahkan diri atas kemauan mereka sendiri, mungkin.
Sementara itu, aku kembali ke dalam kelas, mengecek tasku, kalau-kalau ada barang lain yang diambilnya. Ternyata hanya bekalku. Alhamdulillah masih tersisa sedikit, ini cukup untukku makan sementara.
20 Menit Kemudian...
Semua sudah masuk, dan tentunya aku selesai makan. Tidak lama setelah waktu masuk, masuklah seorang guru. Itu guru bahasa Inggris lagi.
"Welcome, sir," kata semua murid.
"Kalian tidak perlu berbahasa Inggris kali ini, karena ini hanyalah non-formal," kata guru bahasa Inggris itu.
Tidak berapa lama kemudian, Dian dan temanku itu masuk kelas.
"Silahkan," kata guru bahasa Inggris itu.
"Baiklah, bapak ditugaskan untuk menyebarkan berita ini. Bahwa pencuri dari komputer di laboratorium komputer dan ruang multimedia masih berkeliaran. Harap amankan barang-barang kalian, selama beberapa hari kedepan, dan lebih baik kalau selamanya," kata guru bahasa Inggris.
"Okay, sir," kata semua murid.
"Sudah kubilang, tidak perlu berbahasa Inggris saat ini," kata guru bahasa Inggris lagi.
"Oleh karena itu, bantu kami, para guru, merapikan tempat-tempat yang rawan pencurian agar lebih aman," papar guru bahasa Inggris dengan suara tegas.
Pembagian sudah dilakukan, aku mendapat di mushalla. Aku bersama beberapa siswa kelas lain, disuruh mengamankan karpet sajadah ke dalam kantor, karena hanya kantorlah tempat yang paling aman saat ini. Setelah beberapa karpet sajadah terpindah, aku menemukan kunci mobil. Di kunci mobil tersebut, bertuliskan nomor plat yang sepertinya permanen, kemungkinan agar tidak tertukar.
Kemudian aku menyadari sesuatu.
"Bukankah ini kunci mobil dari pak Kurniawan?," tanyaku pada diriku sendiri.
Aku teringat sesuatu, dan aku tahu siapa pelakunya. Saatnya melapor ke pak Kurniawan.
Beberapa menit kemudian, kami telah selesai mengamankan barang-barang kami. Akupun melihat pak Kurniawan keluar dari kantor. Aku langsung mendekati beliau.
"Apa yang anda lakukan di dalam sana?" tanyaku.
"Mendiskusikan siapa pelakunya," jawab pak Kurniawan.
"Menurut anda, siapa pelakunya?" tanyaku lagi.
"Nanti saja, saat upacara," jawab pak Kurniawan lagi.
"Upacara?" tanyaku keheranan.
"Diharapkan kepada semua siswa dan siswi agar bisa ke lapangan," begitulah suara pengumuman yang terdengar.
"Aku akan menjaga pendapat anda," kataku sambil menunjuk diri pak Kurniawan kemudian pergi ke lapangan.
Tidak lama kemudian, semua siswa berkumpul.
"Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh," kata pak Kepala Sekolah yang tentu saja terdengar karena menggunakan mikrofon.
"Wa 'alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh," jawab semuanya.
"Baiklah, tidak berlama-lama, langsung menuju intinya saja, kami telah mengetahui pelakunya. Kami persilahkan kepada yang lebih berwenang untuk menjelaskan," kata pak Kepala Sekolah sambil menyodorkan mikrofonnya kepada pak Kurniawan.
"Terimakasih. Pertama-tama, jika ada pendapat yang lain, silahkan protes. Baiklah. Pelakunya tidak satu, namun dua, dan pendapat saya, pelakunya ada diantara kalian," kata pak Kurniawan.
Para siswa langsung heboh ketika mendengar "pelaku diantara kalian" itu.
"Mohon diam sebentar, saya belum selesai. Dan sekali lagi, ini hanya pendapat saya. Saya juga manusia, terkadang saya juga bisa salah. Baiklah, pelakunya adalah Dian dan temannya yang bernama Anto," kata pak Kurniawan.
Merekapun yang baru datang dari ruang BK, berdiri disamping pak Kurniawan dengan tertunduk.
Aku yang protes akan pendapat ini, langsung maju menuju pak Kurniawan. Saat itu, pak Kepala Sekolah menghalang-halangiku.
"Biarkan saja," kata pak Kurniawan yang kudengar sayup-sayup dari kejauhan.
Pak Kepala Sekolahpun memperbolehkanku menuju pak Kurniawan. Pak Kurniawanpun berkata, "Ternyata ada yang berbeda pendapat."
Aku menyadari bahwa mikrofon itu sudah disetel sehingga walau mulut jauh dari mikrofon, suara tetap terdengar.
"Menurutku, pelakunya bukanlah mereka pak," kataku.
"Apa buktimu?" tanya pak Kurniawan.
Akupun merogoh sakuku kemudian menyerahkan kunci yang kutemukan di mushalla tadi.
"Menurut anda, siapa lagi yang punya kunci mobil anda selain anda sendiri?" tanyaku.
"Agus," kata pak Kurniawan tersadar.
Akupun tersenyum mendengar jawaban tersebut.
"Berarti...?"
"Tunggu dulu, satu lagi," kataku.
"Siapa?" tanya pak Kurniawan.
"Anaknya, Fadli," kataku.
"Bukankah Fadli libur?" tanya Dian.
"Dia berbohong, aku lupa akan surat itu bukannya mendukung kebohongannya, tetapi aku memang lupa," jawabku.
"Mereka begitu hebat dalam menyamar," kataku.
"Padahal anda sudah benar, ada dua pelaku, dan pelakunya diantara kita," lanjutku.
"Apa maksudmu?" tanya pak Kurniawan.
"Pak Kepala Sekolah dan Anto, itu bukanlah mereka," kataku.
"Jujur saja!" teriakku.
Seperti cerita detektif yang selalu kutonton itu, tokoh jahat entah kenapa mau jujur. Mereka membongkar "topeng" mereka.
"Bagaimana kau tahu?," kata pak Kurniawan.
"Anto tidak pendiam, dan pak Kepala Sekolah tidak pernah menghalang-halangiku," jawabku.
"Kau memang hebat, aku mengaku kalah untuk kali ini," kata pak Agus.
"Aku hanya dipaksa, aku yakin kau sudah tau akan hal itu," bisik Fadli kepadaku.
Aku hanya tersenyum, kemudian berkata "Kasus ini, sudah selesai."
Tangan pak Agus dan Fadli diborgol oleh pak Kurniawan.
"Selalu membawa borgol berlebih," kata pak Kurniawan padaku.
Barulah kami sadar, bahwa mobil pak Kurniawan, sudah ada di parkiran. Pak Kurniawan langsung saja membawa mereka ke dalam mobil ini.
Ada yang terasa janggal, aku merasa ini seperti direncanakan lagi seperti kasus dahulu. Mungkin itu hanya perasaanku.
Setelah itu, aku bersalaman dengan Dian. Kemudian kembali ke barisan. Aku disambut dengan tepuk tangan.
Tamat