XtGem Forum catalog
Ilustrasi Kesepian
Ilustrasi Kesepian

----------------
Ini adalah sambungan Kasus Pembunuhan di Rumah Panas
----------------
Akupun pergi kembali ke rumah sambil tersenyum.
"Tunggu dulu, dia nampak aneh", kata Pak Agus.
"Paling-paling perasaanmu lagi", kata Pak Kurniawan.
Pak Agus hanya diam, kemudian mengikutiku. Pak Kurniawan dan Fadli hanya menengok satu sama lain, kemudian mengiringi Pak Agus.
Sesampainya di rumah...
Aku langsung pergi ke kamarku, mengambil remot dan berbaring kemudian menyalakan televisi. Aku pun membuka saluran kesukaanku.
"Akhirnya, yang ditunggu-tunggu datang juga. Episode terbaru!", kataku dengan girang.
Tok Tok Tok (suara pintu yang diketuk)
"Tunggu sebentar!", teriakku dari kamar.
Akupun membukakan pintu, ternyata orang yang tadi bicara denganku di mesjid.
"Eh, kalian ternyata. Silahkan masuk", kataku.
Akupun segera menyiapkan minuman dan cemilan, kemudian berkata, "Silahkan dinikmati". Setelah itu aku kembali ke kamarku.
"Hmm, dia memang aneh", kata Pak Agus.
Ternyata Pak Agus mengikutiku lagi.
"Oh, ternyata ini....", kata Pak Agus.
Pak Kurniawan dan Fadli yang penasaran, mengikuti juga.
"Tunggu dulu, ini juga acara kesukaanku", kata Fadli.
"Susah loh, aku ikut menebak pelakunya, salah terus", lanjut Fadli sambil pura-pura menangis.
"Tak perlu bersedih, aku juga gagal terus", kata Pak Kurniawan dengan mata 'berkaca-kaca'.
Kamipun menikmati acara tersebut, kali ini bercerita tentang orang kaya yang terbunuh dirumahnya, hasil otopsi menyatakan bahwa terdapat luka di kepala, tusukan di perut, dan jari kelingking kaki tidak ada. Sampai diakhir acara, ada 3 orang yang kemungkinan membunuh orang kaya itu. Akupun berkata dengan suara pelan, yang tak sengaja bersamaan di televisi, "Aku sudah tau siapa pelakunya". Pak Agus, Pak Kurniawan, dan Fadli pun menengokku secara bersamaan.
"Tunggu, kau tau pelakunya?" kata Pak Agus.
"Kalau anda sudah menebak duluan, katakanlah", kataku.
"Menurutku pelakunya Tukang Kebun, dia terlalu mencurigakan", kata Pak Agus.
"Hm, aku setuju. Di TKP, terdapat dua lagi, sudah cangkul berdarah, gunting rumput yang berdarah juga ada", kata Pak Kurniawan.
"Hm, tapi menurutku pelakunya Koki, karena cangkul dan gunting rumputnya tidak berdarah, sedangkan pisau tersebut ada darahnya", kata Fadli.
"Ada darahnya tadi, barusan aku bilang", kata Pak Kuniawan.
"Ah, aku gak peduli, aku tetap dengan tebakanku", kata Fadli.
Ternyata episode selanjutnya tepat setelah episode ini.
"Hore, edisi maraton", kataku.
Tak selang berapa lama, akupun berkata, "Pelakunya adalah tukang sapu. Agak bodoh juga dia ini". Ternyata tebakanku benar.
"Lah, kok kamu bisa benar?", kata Pak Kurniawan.
"Hooh", kata Fadli.
Akupun menjelaskan alasan tebakanku, "Satu, tidak ada sapu disana. Dua, tidak mungkin seorang pelaku meninggalkan dua senjata. Tiga, tidak hanya koki yang bisa menggunakan pisau", kataku.
"Kemudian, bagaimana cara pembunuhannya?", tanya Pak Agus yang mulai penasaran.
Akupun menjelaskan lagi, "Satu, dia memukul cangkul ke kepala korban. Dua, dia menusuk perut korban. Tiga, dia memotong kelingking korban", paparku.
Ternyata kebetulan sama dengan di televisi.
"Jangan-jangan kamu pelakunya", kata Fadli.
"Astaghfirullah, itu cuma cerita fiksi, Fadli. Aku hanya kebetulan benar, lagipula aku kan masih pelajar", kataku sambil mengusap wajah dari dahi ke dagu tanda kesal.
"Maaf, aku bercanda kok, gitu aja kok marah", kata Fadli.
"Wow", kata Pak Kurniawan sambil melongo melihatku.
"Ngomong-ngomong, dimana orang tuamu?", kata Pak Agus.
Sontak suasanapun menjadi hening.
"Memangnya kenapa pak?", tanyaku mencoba menyembunyikan.
"Tidak apa-apa, hanya bertanya", kata Pak Agus.
Tiba-tiba, ponselku berdering. Akupun mengambil ponsel dari laci meja belajarku, yang berada di kamarku ini tentunya. Ternyata ibuku menelpon, akupun langsung mengangkatnya, dan keluar dari kamarku menuju ruang tamu dan duduk di sofa dengan tangan kanan yang diletakkan diatas sandaran dan tangan kiri yang memegang ponsel di telinga.
"Iya, apa bu?", kataku dengan suara agak pelan agar tidak ketahuan.
Pak Agus yang penasaran mengintip dari kamarku, dan aku melihatnya. Tapi aku sudah tidak peduli dan melanjutkan teleponku.
"Kami mau pulang kesana". begitu suara ibu dengarku.
"Tidak apa-apakan ada tamu yang nonton bareng dikamarku?", kataku dengan jujur.
"Iya, tidak apa-apa. Iyakan yah?", kata ibuku yang menanya ayahku.
"Iya, malahan ayah senang. Karena baru kali ini kita didatangi tamu, jadi rame kan?. Tidak rame hanya karena perdebatan tetangga kita, hehe", kata ayahku sambil agak bercanda.
Tet Tet (suara klakson)
"Cepat, kita ke ruang tamu. Fadli, matikan tvnya", kata Pak Agus dengan nada panik.
Fadli pun mengambil remot kemudian mematikan tv, dan ikut Pak Agus ke ruang tamu. Pak Kurniawan pun ikut juga. Mereka berjalan ke ruang tamu dengan langkah pelan namun cepat.
Aku membukakan pintu, dan benar saja itu orang tuaku. Setelah mereka memarkir motornya di teras, akupun menyambut mereka dengan pelukan. Kemudian mereka pun masuk ke dalam.
"Agus!!, Kurniawan!!", kata ayahku yang melihat mereka yang ternyata sudah duduk di kursi tamu.
"Eh, kalian". kata ibuku.
"Tunggu, kalian saling kenal?", kataku dan Fadli yang tidak sengaja bersamaan.
"Iya dong, kami kan dulu satu sekolah", kata ibuku.
"Tunggu dulu, tidak biasanya sunyi tetangga kita ini", kata ayahku.
"Iya ya, biasanya berdebat tanpa henti, bahkan tengah malam pun debat mulu, telinga kami yang panas", kata ibuku.
Rumah kamipun dipenuhi gelak tawa. Entah kenapa, aku merasakan ada sebuah perbedaan. Sejak terbunuhnya Aris, rumahku sudah terasa berbeda, bahkan sebelum itu terjadi. Mungkin lebih tepatnya saat orang tuaku meninggalkan rumah ini.
"Pasutri, dan seorang perempuan tetangganya, dipenjarakan", kata Pak Agus.
"Hah kenapa?", kata ayahku yang agak kaget.
"Mereka bekerja sama untuk membunuh....."
"Aris", kata Fadli yang lagi-lagi bersamaan denganku yang sedang mau duduk disampingnya.
"Darimana kamu tau, Fadli?", bisikku kepadanya.
"Ya jelas tau lah, orang dia duduk bersebelahan sama aku, ayahku Pak Agus", balas bisik Fadli.
"Oh iya juga ya", kataku.
"Berarti hanya kau yang tersisa di desa ini, Fis", kata ibu kepadaku.
"Kenapa mbak?", kata Pak Kurniawan.
"Karena hampir semua orang, termasuk kami, tidak mau lagi berada di desa ini setelah kejadian mengerikan itu", kata ibuku.
"Kebakaran besar itu?", kata Pak Kurniawan.
"Iya", kata ibuku.
Dari kursi tamu, aku melihat seorang dengan pakaian pencuri mau mencuri motor ayahku. Akupun sontak berdiri, kemudian berlari ke arah itu, dan aku mendorong orang tersebut sampai jatuh (baca: aku melakukan spear). Akupun membuka topengnya, dan ternyata itu adalah orang yang pernah kulihat dulu
"Pak Agus!!", teriakku tanda marahku mulai meluap.
Pak Agus-pun kaget, kemudian keluar dan melihatku.
Setelah melihat orang yang didalam topeng ini, Pak Agus langsung menarik kerah orang itu, mendirikannya, dan membantingkannya ke tiang sampai rumahku bergoncang.
Orang-orang yang didalampun merasakan goncangannya, bahkan aku langsung terduduk.
"Bukankah sudah kubilang, ha?!. Aku tidak membolehkanmu lagi melakukan kejahatan setelah kau melakukan itu, sekarang kau mengingkari janjimu!", kata Pak Agus dengan nada tinggi.
"Wan!!", teriak Pak Agus setelah itu.
"Iya, apa Gus", kata Pak Kurniawan.
"Borgol dia di tiang ini", kata Pak Agus.
"Ah, kebetulan sekali aku selalu membawa borgol", kata Pak Kurniawan.
Aku hanya kebingungan, sementara itu Pak Kurniawan mulai memborgol orang itu. Kemudian Pak Agus mendekati Pak Kurniawan, sepertinya membisikkan sesuatu. Setelah itu Pak Kurniawan mengeluarkan ponsel dari sakunya dan menelpon seseorang.
Tak selang berapa lama, mobil polisi pun datang. Pak Kurniawan melepas borgolnya dari tiang, kemudian Pak Agus menahan agar orang itu tidak kabur. Aku hanya tersenyum, melihat kerja sama mereka yang begitu baik walau bukan rekan kerja lagi. Setelah itu Pak Kurniawan memasangkan borgol lagi, dan Pak Agus melemparnya kedalam mobil polisi. Sepertinya beliau mengencangkan sabuk pengamannya agar dia tidak mengamuk. Dan Pak Kurniawan dan Pak Agus pun masuk kedalam mobil tersebut.
Pak Agus berteriak, "Kami ke kantor polisi dulu".
"Baiklah", kataku dengan suara yang cukup keras.
Mereka-pun pergi. Aku kemudian berdiri dan membersihkan celanaku yang terkena teras kotor tadi.
Fadli pun keluar seraya berkata, "Aku pulang juga ya".
"Baiklah, hati-hati ya", kataku.
"Oke", kata Fadli sambil berjalan.
Aku akhirnya masuk ke dalam rumah dan duduk di sofa bersama orang tuaku.
"Hebat juga kamu", kata ayahku.
Aku hanya tersenyum menyambut perkataan ayahku itu.
"Ngomong-ngomong, apa benar Aris terbunuh?", kata ibuku.
Akupun menjelaskannya dengan cukup panjang lebar.
"Kejadiannya sudah cukup lama, ayahnya bekerja sama dengan mbak Yuli demi membunuh Aris. Mereka alasannya sama, muak mendengar suara Aris yang bernyanyi keras"
"Apakah ibunya tidak muak juga?", potong ayahku.
"Apakah kamu lupa, dia agak tuli dan pandangannya agak rabun. Dia kan udah tua sekali", jawab ibuku.
"Iya juga ya, baiklah, lanjut", kata ayahku.
"Ayahnya membawa istrinya ke toko elektronik, kalian sudah tau bahwa ibu Aris itu bermasalah dengan penglihatan dan pendengarannya. Kemudian ayahnya membawa lebih jauh dengan berkata bawa toko itu tutup."
"Padahal buka 24 jam", potong ayahku lagi.
"Pah!", kata ibuku dengan agak pelan sambil memukul paha ayahku.
"Oh, maaf, lanjut lagi", kata ayahku.
"Sementara itu mbak Yuli pergi ke rumah Aris. Rumah Aris ini agak gelap dan panas. Saat itu, kipas angin menyala.
Karena gelap, mbak Yuli menghidupkan lampu, kipas angin otomatis mati. Kebetulan Aris tertidur. Dia pun membunuh Aris. Setelah itu dia matikan lampunya, kipas angin otomatis menyala.
Dia merasa ada cairan yang tiba-tiba mengenai tubuhnya. Dihidupkannya lampu, ternyata itu darah Aris. Karena takut ketahuan, diapun langsung pulang dan mandi. Selesai", kataku.
"Jadi Aris benar-benar meninggal?", tanya ibuku.
"Sebenarnya saat itu, dia masih kritis. Kemudian dibawa ke rumah sakit. Nah di perjalanan saat hendak sampai, dia meninggal", kataku.
"Darimana kau tau sebanyak itu?", kata ayahku.
"1. Laporan dari Pak Kurniawan. Dan 2. Laporan dari Dokter yang menangani Aris. Dan itu didapat, karena aku bertanya", kataku.
"Aku benar-benar bangga dengan anak kita ini", kata ayahku kepada sambil mengusap kepalaku.
Aku hanya tersenyum lagi.
"Bolehkah aku melihat brankasnya?", kata ayahku.
"Silahkan", kataku.
Ayahku pun masuk ke kamarku, dia membuka brankasnya.
"Oh, masih banyak ini, tapi tidak apalah, tambah saja", kata ayahku.
"Kalian kan nyuruh aku menghemat uangnya", kataku.
"Iya juga sih", kata ayahku sambil keluar dari kamarku.
"Jadi, kalian akan pergi lagi?", kataku dengan nada sedih.
"Tadinya iya, tapi setelah mendengar cerita tadi, dan kami kasian karena hanya kamu yang tersisa di desa ini. Maka kami akan tinggal", kata ibuku.
"Hore!", kataku sambil memeluk orang tuaku.
"Maukah kalian menonton acara yang kumaksud saat menelpon tadi?", tanyaku.
"Tentu saja!", kata ayahku.
"Biar ibu tebak, pasti acara detektif itu", kata ibuku.
"Yah... Ibu sudah tau", kataku.
"Dari omonganmu itu...", kata ibuku.
Akupun pergi bersama orang tuaku ke kamarku, mengambil remot, dan menghidupkan televisi. Kami pun duduk bersama diatas kasurku, dan menonton acara kesukaanku, bersama-sama.
TAMAT