Disneyland 1972 Love the old s
Ilustrasi
Ilustrasi Ditangkap - Google Images

Prolog from Writer:
Baiklah para pembaca. Seri Kasus Saudara saya batalkan karena suatu hal. Selepas dari itu, [spoiler] seri ini adalah seri terakhir yang saya buat. Dan, saya mungkin tidak membuat cerita lagi.
Yang pastinya, terimakasih telah membaca.

Sebelumnya: Rancangan yang Tersamakan

Tak lama kemudian, nomor tidak dikenal menelponku. Aku dengan agak gugup mengangkat panggilan tersebut.
"Halo, Fis."
Suara itu adalah suara yang kukenal. Itu pak Idris.
"Ya, ada apa pak?" jawabku.
"Si Agus kabur Fis!"
"Bagaimana bisa?"
"Entahlah, yang pastinya aku butuh bantuanmu. Kira-kira, dimana dia berada?"
"Aku akan menjawabnya, tapi beri aku waktu untuk memikirkannya."
"Jangan terlalu lama, kalau-kalau dia kabur ke tempat yang jauh."
Aku menutup panggilan tersebut.
"Bagaimana bisa?!"
Pertanyaan itu terulang lagi.
"Ada apa, Fis?" tanya orang tuaku serempak.
"Tidak apa-apa, aku hanya terbawa cerita," kataku.
"Lain kali jangan mengagetkan kami," kata ayahku.
Aku kembali membuka bukuku. Tidak tertulis sebuah pelarian dari pak Agus.
"Darimana dia mendapatkan cara ini?" kataku pada diriku sendiri.
Aku mulai berusaha mengingat.
"Episode itu! Bukankah kami menontonnya bersama-sama? Aku baru ingat disana diceritakan pelarian ketika ditangkap polisi, dia menghilang dan latar berubah ke sebuah taman."
Muncullah sebuah ingatan yang begitu berharga.
"Taman! Dimana aku pertama kali berurusan dengan mereka!"
Aku langsung menelpon pak Idris lagi.
"Mengapa kau begitu lama? Aku sengaja singgah demi menunggu jawabanmu!" kata pak Idris.
"Maaf pak, tapi saya sudah menemukan jawabannya," kataku.
"Jadi, dimana?"
"Anda tahu taman di Jalan Sudirman itu?"
"Tentu, tapi menurutku alangkah baiknya kau ikut juga."
"Ide yang bagus."
Panggilan dihentikan. Akupun kembali ke ruang makan.
"Ayah, ibu, aku pergi sebentar ya..."
Ibuku mendekatiku, dia memegang pundakku, kemudian berkata, "Usahakan jangan lama."
Aku hanya dapat berkata "Insya Allah." Kemudian aku pergi ke teras sambil menunggu mobil pak Idris.
Beberapa menit kemudian, sebuah mobil polisi singgah di depan rumahku. Kaca mobilnya mulai terbuka. Itu memang pak Idris.
"Jadi sekarang?" tanyaku.
"Pasti!" jawab pak Idris agak marah.
"Baiklah pak, maaf," kataku sambil masuk ke dalam mobil.
Kami pun melaju dengan kencang. Aku langsung teringat ketika pak Kurniawan mengendarai mobil dengan kecepatan yang sama.
"Pak, apa tidak terlalu kencang kecepatannya?"
"Setiap anggota polisi yang bekerja di bidang kriminal, harus bisa berkendara dengan kecepatan yang kencang. Ditakutkan pelaku akan kabur, sehingga kami dapat mengejarnya,"
Akhirnya aku dapat alasan yang jelas, mengapa pak Idris dan pak Kurniawan begitu cepat.
Kamipun tiba di taman yang dimaksud. Setibanya disana, aku langsung mengarahkan pak Idris ke tempat dimana aku menemukan Andri pingsan.
Sekarang, aku menemukan Andri lagi, tetapi tidak dalam keadaan pingsan.
"Aku saja yang mengecek keadaannya," kata pak Idris.
Pak Idris memegang pergelangan tangannya, kemudian berkata, "Dia sudah mati."
"Mengapa!"
Aku pun tertegun atas keadaan ini, dan aku hanya bisa meninju pohon di dekatku.
"Bersabarlah, aku tahu dia mungkin orang terdekat bagimu,"
Aku teringat sesuatu.
"Pak, ayo kita kembali ke mobil, dan langsung pergi ke pelabuhan. Cepat!"
"Untuk apa?"
"Nanti anda tahu sendiri," kataku sambil berlari.
Kami kembali ke mobil, kemudian kami melaju dengan cepat ke pelabuhan. Sesampainya di pelabuhan, tebakanku benar.
Disana ada pak Agus dengan temanku Taufiq, disana pak Agus ingin menembak Taufiq dengan pistolnya.
"Berhenti disana!" teriak pak Idris.
"Jangan bergerak, atau kutembak orang ini!" kata pak Agus mengancam.
Pak Idris tetap bergerak maju kemudian mengarahkan pistolnya kepada pak Agus. Ternyata pak Agus mengarahkan pistolnya dari kepala Taufiq kepada pak Idris.
"Dor!"
Sebuah letusan pistol. Pak Idris terjatuh.
"Pak Idris!" teriakku sambil berlari mendekati pak Idris yang baru saja tergeletak.
"Brengsek lu pak Agus! Selama hidup gua, gua belum pernah ketemu orang sekejam elu!"
"Kalau elu memang iri gara-gara gue lebih pintar dari anak elu, gue bakal ngajarin anak elu sampai dia lebih pintar dari gue!"
"Tapi gak gini juga caranya!"

"Tidak perlu begitu, Fis."
Suara itu. Itu pak Kurniawan! Bagaimana bisa dia sembuh secepat itu?
Pak Agus yang menyadari hal itu, melepas Taufiq kemudian berlari.
"Dor!"
Tembakan diletuskan. Pak Agus terjatuh. Akhirnya sang biang kerok sudah dikalahkan.
Taufiq berlari kepadaku dan memelukku, kemudian dia berkata "Lama tidak bertemu, Fis."
Aku hanya tersenyum, kemudian melihat pak Kurniawan.
"Pak?"
"Nafis, kamu saya tangkap karena merancang semua kasus ini,"
"Apa?" tanyaku.
"Aku sudah menyelidiki semua. Ternyata semua berasal dari cerita buatanmu," kata pak Kurniawan sambil menyerahkan buku ceritaku yang asli.
"Darimana anda dapat ini?"
"Setelah pak Agus kabur, anaknya Fadli menyerahkan diri, kemudian memberikan buku ini kepadaku," kata pak Kurniawan.
"Tapi pak, dia tidak mungkin melakukan hal itu. Lagipula itu mungkin hanya sebuah cerita. Semua terjadi secara kebetulan, bukan?" kata Taufiq mencoba membelaku.
"Masalahnya, mana mungkin semuanya persis sama?"
"Berarti?"
"Itu sengaja disamakan. Bahkan sebelum pak Agus mencuri buku itu, semuanya terjadi dengan persis sama," kata pak Kurniawan.
"Apa pembelaanmu?" tanyanya padaku.
"Aku membuat cerita ini, berdasarkan cerita detektif yang kita tonton itu. Aku hanya menyamakan tokohnya, kemudian kasus-kasus disana kurubah sedikit," kataku.
"Percayalah, itu memang kami. Itu acara realitas pertama yang menampilkan polisi sebagai detektif kemudian memecahkan berbagai kasus. Kau hanya mengubah latarnya, sisanya sama!"
"Dan kau akan dapat pasal berlapis, mulai dari merancang kasus, menghina polisi, kemudian plagiarisme,"
Aku hanya tertunduk. Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi.
"Katakan sesuatu!" kata Taufiq.
"Mungkin perkataannya benar, aku ini hanyalah melakukan apa yang dikatakannya barusan. Kau silahkan melanjutkan aktivitasmu, sementara aku akan menyerahkan diri. Terimakasih atas sejarah yang pernah kita buat dulu, yakni pertemuan kita disini," kataku
Taufiqpun juga tidak bisa berkata apa-apa.
"Baiklah, mari kita ke kantor polisi," kata pak Kurniawan.
"Ada satu syarat. Biarkan orangtuaku tahu," kataku.
"Orangtuamu sudah tahu, aku tadi singgah disana. Jujur, sebenarnya mereka sedih," kata pak Kurniawan.
Aku yang skeptis, langsung mengeluarkan ponsel dari sakuku kemudian menelpon ibuku.
"Nak, apa yang sebenarnya terjadi?"
Suara itu terdengar sedih.
"Aku juga tidak tahu bu. Bagaimana mungkin sebuah cerita fiksi yang kebetulan sama dengan kehidupan nyata, dapat menjerumuskan ke penjara?"
"Maafkan aku bu. Beritahu ayah juga, aku minta maaf," kataku.
"Baiklah. Sampai jumpa, Fis," kata ibuku.
Aku menutup panggilan tersebut. Aku hanya dapat tertunduk sambil meneteskan air mata.
Beberapa saat kemudian, tanganku diborgol dan aku dibawa ke kantor polisi.
Setibanya disana, akhirnya, aku tidak di-interogasi, karena mereka merasa kasusku ini sudah titik terang, bahwa akulah pelakunya.
Kemudian, saat aku sudah dimasukkan kedalam sebuah sel, datanglah seseorang. Itu Fadli.
"Fis, maafkanlah aku jika aku salah. Aku sudah mendengar semuanya, tetapi jika kau menginginkannya, bolehkah aku mendatangimu setiap hari untuk belajar padamu?" kata Fadli.
"Tentu! Itu adalah hal yang paling kusuka!" jawabku.
Kemudian, datang lagi satu orang, dan itu pak Idris.
"Bagaimana bisa?!"
Pertanyaan itu akhir-akhir ini sering kutanyakan pada diriku sendiri, bahkan terkadang dengan suara nyaring.
"Aku memakai rompi anti peluru, hehe. Maafkan aku telah membuatmu bersedih," kata pak Idris.
"Tidak apa-apa, hanya saja, gara-gara itu aku jadi berkata kasar," kataku.
"Mungkin itu sifat tersembunyi darimu," jawab pak Idris.
"Oh ya, apakah ayahmu sudah dikuburkan? Dan pastikah itu jasad ayahmu?" tanyaku pada Fadli.
"Sebentar lagi, proses pengantaran dari rumah sakit. Hasil autopsi menyatakan itu memang ayahku," kata Fadli.
"Aku turut berduka cita atas hal itu," kataku.
"Kamu tidak perlu berduka, lagipula ayahku sifatnya juga begitu," kata Fadli.
"Baiklah, aku pergi dulu!" lanjut Fadli.
"Aku juga!" kata pak Idris.
Akhirnya, aku sendirian di sel ini. Sejak saat itu, aku tidak mau lagi membuat cerita, karena itu hanya membuatku sial.
TAMAT

Epilog from Writer:
Baiklah, sudah tamat ternyata. Sampai juga lagi.