XtGem Forum catalog
Aku dapat mendengar suara mobil dihidupkan. Tentunya itu mobil pak Kurniawan.
Pelaku pencurian berantai itu hanyalah pak Agus dan Fadli. Entah kenapa, pak Agus ini selalu ingin dibenci menurutku.
.
Tidak lama kemudian, aku mendengar suara aneh dari mobil pak Kurniawan. Benar saja.
Tidak salah dugaanku akan kejanggalan yang kurasa.
.
Sesaat dari suara aneh itu, mobil pak Kurniawan melaju kencang, bahkan seperti tidak dapat dikendalikan.
Pintu pagar yang tertutup pun tetap ditabrak.
Mobil itu mengarah ke kiri, kemudian karena kecepatan mobil yang terlalu tinggi, mobil tersebut oleng, kemudian terguling.
Anehnya, tergulingnya ke arah kanan. Ini berbeda dari Hukum Newton yang pernah kupelajari.
.
Aku langsung dapat menyatakan bahwa itu dirancang sedemikian rupa. Kemudian anggota PMR mulai berlarian ke arah tempat kejadian, untuk mengecek keadaan tempat kejadian.
.
Aku, sebagai teman dari pak Kurniawan, juga ikut berlari menuju tempat kejadian.
Saat aku tiba, mereka mulai mengevakuasi. Pertama yang dikeluarkan adalah pak Kurniawan.
Memang beliau tidak terluka parah, namun aku yakin beliau mengalami cidera ringan.
Yang kedua adalah Fadli. Lukanya lebih berat. Entah kenapa, disaat yang tepat, dia selalu ada.
.
Ya, sebuah ambulan kebetulan lewat, kemudian salah satu anggota PMR menyinggahkan ambulan tersebut dan berbicara kepada supir ambulan itu. Setelah dia berbicara kepada supir ambulan itu, dia mulai menyuruh rekannya untuk mengangkat Fadli kedalam ambulan.
.
Ambulan itu meneruskan perjalanannya.
.
"Apakah ada lagi orang didalam sana?" tanya anggota PMR yang berbicara dengan supir ambulan tadi.
"Tidak ada!" kata salah satu anggota PMR lainnya.
"Baiklah, bawa beliau ke UKS kita!"
"Siap!"
Pak Kurniawanpun diangkat ke tandu, kemudian dibawa ke UKS.
.
Sementara itu, aku menetap di tempat kejadian. Dengan tujuan, menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi.
Ternyata, ada satu surat.
Aku sudah tidak menganggapmu remeh, sekarang giliranmu untuk tidak menganggapku remeh.

"Sial!" kataku.
.
Tidak lama kemudian, polisi yang kebetulan patroli, menyinggahi tempat kejadian. Salah satu anggota polisi menarikku dari tempat kejadian itu, dan membawaku kembali ke sekolah.
Rupanya lambang di bajuku bisa dengan mudah terlihat.
.
Aku hanya bisa melihat tempat kejadian itu dari jauh. Polisi itu mulai membentangkan garis polisi.
.
Ilustrasi Kecelakaan - Google Images

.
15 menit kemudian, datang seorang polisi ke sekolahku. Aku dapat menebak beliau kepala Kepolisian.
Rupanya beliau mau menjenguk pak Kurniawan di UKS. Akupun mengikuti beliau.
.
Setibanya di ruang UKS, aku dapat melihat pak Kurniawan sudah sadar. Dari wajah beliau, sepertinya beliau sudah lama tersadar.
"Pak, bagaimana keadaan mobil yang terbalik tadi?" tanyaku ke kepala kepolisian itu.
"Kamu tidak berhak tau akan hal itu!" jawab kepala kepolisian itu.
"Jawab saja pak. Saya yakin dia akan membantu kelancaran kasus ini," kata pak Kurniawan dengan suara lemah.
"Baiklah, huft."
"Intinya, mobil ini dimodifikasi sedemikian rupa sehingga ketika gasnya diinjak, mobil itu langsung melaju kencang," kata kepala kepolisian itu.
"Seperti motorku dulu, gasnya diatur untuk langsung melaju kencang," kata pak Kurniawan.
"Iya Wan," kata kepala kepolisian itu sambil mengangguk.
.
Sebelum mendalami ini, aku harus mengetahui trik yang digunakan oleh pak Agus. Bagaimana bisa dia menghilang?! Aku masih kebingungan.
.
"Siapa namamu?" tanya kepala kepolisian yang mengagetkan lamunanku.
"Nafis pak," jawabku spontan.
"Perkenalkan, namaku Muhammad Idris," kata kepala kepolisian itu mengulurkan tangan beliau, seolah-olah aku teman dekat beliau.
Aku langsung menyalami tangan beliau.
.
"Biar saya tebak, anda punya adik, seharusnya kelas 3 SLTA, tapi dia tidak sekolah. Namanya Ahmad Firdaus," kataku sambil tersenyum.
"Bagaimana kau mengetahuinya?" tanya pak Idris.
"Karena dulu saya pernah membuat cerita, saya menamai tokohnya sama dengan anda. Mungkin itu hanya sebuah kebetulan," kataku.
Pak Idris hanya terdiam.
.
"Aku sudah menduga dia akan melakukannya," kata pak Kurniawan.
"Dendamnya padaku masih dalam," lanjutnya.
"Siapa?" tanya pak Idris.
"Itu, si Agus," jawab pak Kurniawan.
"Oh, yang dulu dipecat itu. Memang dia dari dulu seolah-olah ingin menjadi antagonis dalam sebuah cerita," kata pak Idris.
.
Aku tersadar, tapi aku lupa akan ceritaku itu. Seandainya aku boleh pulang.
"Mengapa kamu hanya memecahkan kasus seperti itu?" tanya pak Kurniawan yang masih berbaring.
"Aku tidak mau menjelaskan semuanya. Aku takut ada orang licik yang mau memanfaatkanku," kataku.
Plak, punggungku dipukul pak Idris.
"Kamu ini, sama polisi pakai 'aku', pakai 'saya' dong!" kata pak Idris menjelaskan tujuan pemukulannya.
"Tidak apa-apa kok pak, saya juga sudah terbiasa," kata pak Kurniawan.
"Oh, maaf. Maksudku, alangkah baiknya," kata pak Idris sambil mengelus punggungku yang terkena pukulannya tadi.
"Baiklah, izinkan aku menjelaskan, apa yang sebenarnya terjadi pada Pencurian Berantai hari ini," kataku
"Silahkan, lagipula aku mau mendengarkan pemaparanmu," kata pak Idris.
Aku mulai menarik napas, kemudian kuhembuskan. Setelah itu aku membenarkan peciku dan mulai menjelaskan.
Ilustrasi Detektif - Google Images

"Mengapa aku mencurigai Anto?
Karena selama aku berteman, dia belum pernah membuat masalah, tapi baru kali ini dia membuat masalah. Tidak seperti Dian, karena Dian memang sudah beberapa kali bermasalah, khususnya denganku."
"Mengapa aku mencurigai Kepala Sekolah?
Karena pak Kepala Sekolah yang asli tidak pernah menghalangiku, lagipula beliau sudah tahu hubunganku dengan pak Kurniawan."
"Darimana aku mendapat pikiran, bahwa pelakunya pak Agus dan anaknya Fadli?
Berbagai surat yang isinya kuranglebih sama, diletakkan di tempat kejadian pencurian. Ada yang menyebutkan tentang keirian dan kesalahpahaman. Membaca kata tersebut, pikiranku langsung mengarah kesana.
Akhirnya aku tahu, yang sebenarnya iri itu pak Agus sendiri, bukan anaknya Fadli."
"Namun ada surat yang berbeda. Yakni ditempat kejadian Kecelakaan yang Disengaja barusan. Surat itu bertuliskan agar aku tidak menganggap remeh beliau. Rupanya ini tidak akan selesai untuk sementara."
Aku kembali menarik napas dan menghembuskannya, kemudian berkata, "Itu saja penjelasanku yang sesungguhnya"
"Apa hubunganmu dengan pak Kurniawan ini?" tanya pak Idris.
"Dia merupakan korban kasus rancangan si Agus," jawab pak Kurniawan sambil mencoba bangun.
"Mendengar 'rancangan si Agus' aku selalu teringat ketika dia membantingmu ke atas meja itu," kata pak Idris.
"Jangan ingatkan aku lagi tentang itu," kata pak Kurniawan yang kembali berbaring.
"Pak Kurniawan ini kuat juga, sudah berkali-kali mau dibunuh pak Agus itu, masih hidup juga. Dari ditembak, dibanting, bahkan dicelakakan. Hebat juga," kataku.
"Alhamdulillah, Allah masih memberi kesempatan untukku hidup," kata pak Kurniawan.
Saatnya waktu pulang, demikianlah suara bel sekolahku, yang sekali lagi begitu nyaring.
"Pak Agus itu di bagasi mobil bagian belakang," kataku yang teringat ceritaku sendiri.
"Baiklah, akan aku lihat," kata pak Idris.
"Saya pulang duluan ya, pak Idris," kataku.
"Aku pulang juga ya, pak Kurniawan," kataku lagi.
Aku kembali ke kelas, untuk mengambil tas. Kemudian akupun keluar dari sekolah. Entah kenapa, mobil masih terbalik, dan masih ada beberapa polisi disana.
"Apakah anda sudah mengecek bagasi belakang?" tanyaku pada salah satu polisi.
"Belum kurasa," jawabnya.
Kebetulan pak Idris juga keluar, merekapun bersama-sama mengecek bagasi belakang.
Kebetulan sekali, kejadian hari ini begitu persis dengan cerita yang kubuat. Pak Agus memang ada disana.
"Sial! Mengapa begitu mudahnya ketahuan!" kata pak Agus
Akhirnya tangan pak Agus diborgol, kemudian dibawa ke kantor polisi.
Aku melanjutkan perjalanan pulangku. Setibanya di rumah, setelah mengucapkan salam, aku langsung pergi ke kamarku, kemudian menaruh tasku diatas meja belajar, dan langsung berbaring di kasur.
Aku begitu kelelahan, sehingga dengan cepatnya aku tertidur.
Ketika aku terbangun, ibuku sudah ada disampingku.
Aku yang agak terkejut langsung bertanya, "Ada apa bu?"
"Tidak apa-apa, hanya saja sudah lama ibu tidak bersama kamu," jawab ibuku.
"Perasaanku, ibu cuma pergi sampai 3 hari," kataku.
"Bagi ibu itu waktu yang lama," kata ibu.
Mataku terarah ke meja belajar. Aku melihat semuanya tersusun rapi. Aku langsung memandang ibuku. Ibupun tersenyum.
"Terimakasih bu," kataku sambil memeluk ibu.
"Sama-sama, itu hanyalah bagian dari tugasku sebagai seorang ibu," kata ibuku.
"Oh ya, kemana buku yang terbuka di atas meja belajar itu?" tanyaku yang tersadar akan sesuatu.
"Tadinya aku mau melanjutkan cerita," kataku lagi.
Ilustrasi Buku - Google Images

"Buku?" tanya ibuku.
"Ibu rasa tidak ada buku disana, dari pagi tadi," kata ibuku.
Aku langsung mencari di meja belajar itu. Ternyata tidak kutemukan.
"Berarti buku itu hilang," kataku.
"Bagaimana kalau berada dalam tas?" tanya ibuku.
Aku baru ingat aku membawanya ke sekolah untuk meminjamkannya pada Dian. Dan aku teringat, ada yang mengobrak-abrik tasku.
Aku langsung mengecek tasku. Ternyata juga tidak ada.
Ternyata, pencuri tadi, tidak, Fadli mencuri bukuku. Padahal disana aku membuat cerita, kubuat juga trik-trik menghindari polisi.
Dan salah satu trik dipakai oleh pak Agus di mobil itu.

Ponselku berdering, tertulis 'Pak Kurniawan'. Aku memang meminta nomor Pak Kurniawan saat di masjid. Saat itu mungkin aku tidak mudah lupa seperti sekarang.
Aku menjawab panggilan tersebut.
"Kamu belum selesai menjelaskan kasus itu," kata seseorang di telepon. Itu pak Idris.
"Yang mana pak?" tanyaku.
"Bagaimana mungkin sebuah mobil yang belok ke kiri terpelanting ke kanan?" tanya pak Idris.
"Pertama, saya ini pembuat cerita. Di cerita saya berbagai kejahatan, beserta trik melakukannya, bahkan trik menghindari polisi saya tulis di sebuah buku," kataku.
"Apa hubungannya?" kata pak Idris.
"Buku itu dicuri, oleh Fadli alias anak pak Agus," kataku.
"Lalu?" tanya pak Idris lagi.
"Tentu saja pak Agus menggunakan trik itu. Semua barang curian itu terletak di bagasi belakang. Seharusnya mobil itu juga berat belakang, tapi tidak. Dia sudah menyeimbangkan.
Dan ketika pak Kurniawan belok ke kiri dengan cepat, anda sudah tahu barang curian arahnya kemana, kemudian ban depan menabrak trotoar. Itulah yang menyebabkan mobil itu terbalik.
Bersyukurlah mobil itu tidak terbakar," kataku.
"Baiklah, kamu benar. Barang curian itu kami dapatan tepat dimana kamu menemukan Agus itu, hebatnya tidak ada yang rusak. Sekarang anak buahku mulai mengembalikannya.
Padahal, aku tadinya mau mencoba kemampuanmu lagi, ternyata itu berasal dari ceritamu. Entah kenapa ceritamu begitu mirip dengan kenyataan," kata pak Idris.
"Qaddarallah, barang itu tidak rusak karena terlindung oleh matras. Itulah kenapa pak Agus tidak terluka," kataku sambil tersenyum.
"Baiklah, terimakasih. Assalamu `alaikum," kata pak Idris.
"Wa `alaikumus salam," kataku sambil menutup telepon.
"Siapa itu?" tanya ibuku.
"Polisi," kataku.
"Apakah yang kemarin?" tanya ibuku lagi.
"Bukan, ini temannya yang menelpon," kataku juga.
"Kamu mulai ada hubungan dengan kepolisian ya, siapa tahu nanti di masa depan kamu jadi polisi," kata ibuku sambil tersenyum.
"Doakan saja," kataku.